Ibu dan Jurnal itu
Rumah besar di depan jalan itu sudah lama menyita perhatian. Pertama kali saat remaja, sewaktu ditempati oleh keluarga dengan anak laki-laki lucu; tepat saat hormon saya dan teman-teman sekelas mulai tereksitasi.
Saya meninggalkan Jakarta lebih dari 5 tahun. Tak tahu apa yang terjadi kemudian. Tapi sewaktu saya pulang, saya rasa rumah itu sudah menjadi seperti sekarang –walaupun belum dicet orenj ngejreng ngedombreng.
Sampai saat penghujung tahun, Lexy mengajak Julz dan saya menghadiri acara di sana.
Saya pun mulai mengenal Rara yang ramah dan baik hati (ehm); Nina yang cantik yang selalu saya tuduh memiliki nama asli Siti Zubaidah; Kamel yang lucu :D dan Mariana yang cuek.
Jurnal-jurnal itu pun berpindah dari tangan Rara ke saya saat tandangan kesana.
***
Wajah Ibu berbinar-binar saat dia menyambut saya pulang kantor. Katanya, dia baru saja membaca puisi di satu jurnal dari rumah depan. Saat selesai, kakak perempuan saya bertepuk tangan. Ibu saya tersipu malu.
Saya tertawa.
Wajahnya sama seperti saat dia melihat Sousan dan Cornelia di TV lokal dan berbisik, ‘mereka kan di film itu jadi…,’ …suaranya pelan, seperti takut kalau terdengar orang. Tapi saya menangkap sebuah keriaan, seperti menikmati guilty pleasure, yang dipercayakannya kepada saya.
Ia lalu mengendap-ngendap ke kamar saya sambil membawa jurnal rumah depan.
Raut mukanya sumringah. ‘Kok kamu tahu sih, yang dimauin Mamah?’ kata dia. Walaupun setelah itu dia berpikir keras. Dahinya berkerut. Lalu dari mulutnya, meracau pendapat tentang feminisme dan nasihat untuk tidak salah jalan atau kebablasan.
Ia sepertinya mulai ingat niat awalnya, membaca puisi.
Lalu suara pelan guilty pleasure yang dipercayakannya ke saya pun terdengar,
‘Wanita
Kami bukan lagi
bunga pajangan
yang layu dalam jambangan.
Cantik dalam menurut
indah dalam menyerah
molek tidak menentang
ke neraka mesti mengikut
ke sorga hanya menumpang.
Kami bukan juga
bunga tercampak
dalam hidup terinjak-injak.
Penjual keringat murah
buruh separuh harga
tiada perlindungan
tiada persamaan
sarat dimuati beban
Kami telah berseru
dari balik dinding pingitan
dari dendam pemaduan
dari perdagangan di lorong malam
dari kesumat kawin paksaan:
“Kami manusia” ‘
Sepertinya, saya sudah mengkader Ibu saya…


