Bisa ngomong sampe bego
“Eh, gue mau nelpon ke Indonesia nih. Ntar sebelum balik, gue mau ngisi pulsa cingular dulu ya”
“Ih disini ada tau prepaid telephone card. Cuma 5 dolar lo udah bisa nyambung ke Indonesia. Lama banget, bisa ngomong sampe bego”
“Oh ya?”
“Iya, kartunya dijual di groceries. Nanti kalo lewat, kita mampir dulu aja”
Siska, teman saya yang sedang kuliah di San Francisco pun mengajak saya untuk mampir di sebuah grocery store alias toko kelontong di 24th Street, Mission. Beberapa merk kartu telepon pra-bayar saya coba, dan saya cukup puas dengan kartu telepon Asia Direct seharga 5 USD yang bisa digunakan untuk menelpon ke Indonesia. Kartu ini dapat digunakan selama 333 menit untuk telepon rumah (landline) atau setengahnya untuk telepon seluler.
Berkomunikasi antar benua di kota besar seperti San Francisco memang tidak sulit. Yang paling mudah tentunya adalah melalui internet, karena tak lama lagi San Francisco berencana untuk menjadi kota nirkabel (wireless city) seperti Seattle. Hal ini memungkinkan warga kotanya untuk mengakses layanan internet secara gratis. Walaupun rencana ini masih dalam tahap realisasi, tapi sudah banyak hotspot yang dapat digunakan di wilayah perumahan dan tempat umum. Tender penyedia jaringan nirkabel San Francisco pada tahun 2006 dimenangkan oleh Google, raksasa internet yang bermarkas di Googleplex, Mountain View (sekitar 90 menit naik kereta dari pusat kota San Francisco) bersama dengan Earthlink. Hal ini tentu tidak lepas dari kemauan politik pemerintah kota untuk memberikan akses internet yang terjangkau bagi warganya. Seperti yang ditulis The Register, Walikota San Francisco, Gavin Newsom menuturkan Wi-Fi sebagai ‘a basic human right’ - sort of like gay marriage, but for nerds.
Di Indonesia, ada Indonesian Wi-Fi Consortium yang bertujuan untuk mendorong perkembangan dan pemanfaatan teknologi Internet nirkabel. Salah satu upaya yang dilakukan konsorsium ini adalah membangun dan mempromosikan jaringan nirkabel publik di Indonesia.
Tapi, tentunya, kemudahan akses internet ini tidak datang begitu saja. Pajak yang harus ditanggung oleh warga kota tentu saja tinggi. Saat ini saja San Francisco tercatat sebagai salah satu kota termahal di Amerika Serikat. Internet boom di Silicon Valley awal tahun 2000an membuat harga tanah dan biaya hidup di San Francisco Bay Area meningkat. Hal ini menggandakan jumlah tunawisma di San Francisco.
Penyediaan layanan nirkabel yang dapat diakses gratis oleh publik pastinya juga menimbulkan keberatan dari perusahaan penyedia jasa internet lain. Kalau di Indonesia, provider seperti CBN, radnet atau Telkom mungkin akan keberatan dengan usulan untuk membuat Jakarta sebagai kota nirkabel. Yang pasti, saat ini saya bisa leluasa menghubungi Indonesia melalui e-mail, YM, skype dan ngomong sampai bego :D



Comments