Tentang Remeh-Temeh dan Omong Kosong
Amin Sweeney pernah mengajar selama satu semester di Universiti Sains Malaysia pada tahun 1980. Salah satu bahan kuliahnya adalah penerapan teori Parry-Lord pada pantun dan syair. Teori itu merupakan hasil penelitian Milman Parry dan Albert Lord di Yugoslavia pada tahun 1930-an mengenai kaidah penciptaan lisan. Penelitian berjudul “Teori komposisi formulaik-lisan Parry-Lord” itu kemudian diterapkan peneliti lain kepada komposisi lisan di seluruh pelosok dunia.
Suatu minggu, Amin membawa rombongan mahasiswanya menaiki bus universitas ke negara bagian Perlis untuk menonton pertunjukan. Salah satu mahasiswanya membawa biola dan mulai menggesek. Tak lama kemudian beberapa yang lain sudah asyik bernyanyi dan berbalas pantun secara lisan, mengenai kegiatan nanti setelah di Perlis. Amin kemudian memberitahu mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah sasaran penelitian Parry dan Lord. Para mahasiswanya agak kaget dan geli. Mereka tertawa dan menanyakan, mengapa kedua sarjana itu menghabiskan waktunya meneliti yang remeh-temeh!
Sains dan ilmu pengetahuan berkembang dari ‘yang remeh-temeh’. Apel jatuh menginspirasi Isaac Newton melahirkan teori gravitasi; kapang membuat Alexander Fleming menemukan penicillin; perbedaan paruh burung mendorong Charles Darwin menulis teori evolusi; kulit pisang membawa Ibu Dea meraih L'Oreal Fellowships for Women in Science tahun lalu, dan seterusnya.
Dalam Matematika, setiap teori dilandaskan pada beberapa aksioma. Aksioma adalah sebuah pernyataan yang kebenarannya diterima secara umum. Biasanya pernyataan dalam aksioma selintas sepele, contohnya seperti aksioma pertama Euclid: “Sebuah garis lurus dapat dibentuk dengan menghubungkan dua titik”. Padahal dari aksioma Euclid kemudian dapat diturunkan pemikiran yang lebih kompleks, misalnya teorema phytagoras yang digunakan secara luas dalam ilmu bangunan.
Tapi bagaimana kita membedakan pemikiran rumit yang brilian dengan yang omong kosong? Kisah klasik Alan Sokal membuktikan, omong kosong pun dapat dianggap jenius.
Sokal, fisikawan dari New York University menulis artikel mengenai fisika postmodern berjudul “Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity”. Tulisan itu dikirimkannya ke jurnal posmodernisme bergengsi, Social Text edisi musim semi/panas tahun 1996 dan dimuat. Tak lama kemudian, Sokal mengakui bahwa tulisan yang dikirimkannya ke jurnal itu hanya omong kosong yang bertujuan untuk menguji standard intelektual akademis yang sudah ada. Ia penasaran, apakah sebuah jurnal pengetahuan bergengsi akan memuat sebuah omong kosong jika: (1) terdengar bagus dan (2) sesuai dengan ideologi editor jurnal tersebut? Ternyata, ya. Dalam review-nya mengenai Sokal, Gary Kamiya menuliskan sejumlah kata kunci untuk dianggap brilian, antara lain: ’hermenetika’, ‘transgresif’, ‘Lacanian’ dan ‘hegemoni’.
Intinya? Yang remeh-temeh belum tentu kosong dan yang rumit bisa saja omong kosong.


