« Bukan sekejap JiFFest | Main | The Magic Book »

Bandung, dulu & sekarang

Akhir November kemarin, saya menyempatkan diri ke Bandung. Ini adalah kunjungan saya ke kota kembang itu yang pertama sejak Desember 2005. Setiap kali ke Bandung, saya memang cuma menghadiri acara yang sudah pasti, seperti pernikahan atau workshop. Jarang jalan-jalan keliling kota seperti waktu kuliah dulu. Ternyata, wajah Bandung sudah banyak berubah. Mulai dari jalan layang (aduh Stan, kemana aja??), Cihampelas Walk (yang belum dikunjungin juga kan? :D) sampai travel dari Jakarta yang berangkat setiap jam dan dijamin tiba dalam 2 jam! Berikut catatan saya tentang Bandung yang saya temui bulan lalu:

Yang beda:

Apartemen_simpangApartemen Simpang! Yap! Di pasar Simpang Dago sekarang sedang ada pembangunan apartmen tinggi. Namanya apartemen Dago Butik. Terlihat menocolok karena tidak ada gedung setinggi itu di Simpang. Dulunya kalo gak salah ini tempat lembaga psikologi terapan. Wah, Bandung kayaknya makin mirip Jakarta aja: banyak pembangunan gedung tinggi dan jalan raya, mulai macet juga … makin panas euy!

Stadion_sabugaSabuga harus bayar! Dimana tempat paling enak untuk lari pagi setiap hari Minggu? Dulu, pilihan tempat lari bagi anak kos seperti saya adalah Gasibu dan Sabuga. Dan Sabuga tentunya menjadi pilihan pertama dong, secara saya kosnya di Kebon Bibit. Dulu lapangan ini dapat dimasuki sampai malam. Banyak juga yang menghabiskan sore disini, untuk lari keliling stadion atau latihan saksofon. Gratis! Tapi sekarang, untuk masuk, kita harus membayar tiket masuk. Stadion juga tidak dibuka setiap saat, tapi dibatasi dari pagi sampai sore saja.

Student_center_itbITB yang tambah cantik. Karena sekarang, Student Center-nya bagus banget (kalau mau lihat, bisa ditonton di film ‘Jomblo’ :p). Di jalanan tengah antara boulevard utama tidak bisa dilalui mobil lagi. Sudah ditegel dan diberi pembatas, sehingga mobil harus memutar ke depan Jurusan Sipil dan Planologi. Asyik, para pejalan kaki diprioritaskan.

Jalan_layang_paspatiJalan layang Paspati. Wah, sekarang ada jalan layang yang menghubungkan jalan Pasteur dan Surapati dengan cepat. Jalanan ini dibuka untuk umum tahun 2005 lalu. Dibawahnya dulu adalah pasar Balubur dan daerah Kebon Bibit, tempat saya kos. Pasar Balubur sudah tidak ada lagi. Di bawah jembatan layang hanya Baluburterdapat lahan kosong yang ditumbuhi rumput, kerikil dan kios tukang sol sepatu. Padahal seingat saya, dulunya disini adalah wilayah yang padat penduduk. Banyak rumah berhimpitan dibawahnya. Jadi curiga, rumah kos saya ikut tergusur gak ya?

Hweee, rumah kosku masih ada! Tapi Rumah_koskusekarang sudah berubah jadi warnet bernama rapidNet. Salah satu kamarnya dirombak jadi ruangan untuk internetan. Sementara di halamannya yang dulu tidak pernah kita urus itu (hehehe) sudah diubah jadi warung makan dengan menu bakso, indomie (makanan anak kos banget :p) dan masakan rumah. Ternyata sekarang sudah dikontrakkan ke seorang ibu yang membuka usaha warnet dan rumah makan ini, tidak untuk kos-kosan mahasiswa lagi.

Yang sama:

Furnitur_baluburSelain beberapa perubahan, ada juga yang masih sama di Bandung. Di antaranya adalah tukang furnitur di sepanjang Jalan Tamansari. Mereka menjual furnitur ‘mini’ dari bahan kayu yang ringan. Cocok untuk para mahasiswa yang memang hanya membutuhkan masa pakai dari 4 sampai 7 tahun. Harganya pun tidak mahal, disesuaikan dengan kantong mahasiswa. Setelah dibeli, bisa langsung dibawa dengan angkot ke rumah kos masing-masing :)

     Jajanan Bandung juga masih jadi daya tarik kota kembang. Mulai dari pisang molen Kartikasari, soes Merdeka, es cendol Elizabeth sampai brokus atau brownies kukus yang ngetop sekarang. Jajanan dorongan yang bisa dijumpai adalah es krim duren, siomay/batagor Bandung, lumpia atau bungkusan seperti gurilem.

Yang enak:

Kedai_eskrim Ada satu kedai es krim yang tidak sengaja saya lewati saat naik angkot dari Cipaganti ke Ganesha. Namanya yang bikin saya pengen mengunjungi tempat ini, yaitu ‘I Scream for Ice Cream’ di Jalan Hariabanga 1. Tempatnya rada tersembunyi, tapi bisa dicapai dengan mudah dari Jalan Sawunggaling dan Unisba. Semua es krim disini dibuat sendiri alias home made cooking, dan asyiknya, kita bisa mencicipi tester-nya sebelum benar-benar memesan. Dengan harga Rp. 7.500, kita sudah bisa mendapatkan satu buah scoop es krim dengan topping pilihan.

Ya gitu deh… perjalanan saya ke Bandung tahun ini. Sebenarnya sih saya sedikit gak suka kalau pembangunan Bandung ngikutin Jakarta, soalnya jadi keliatan lebih semrawut, IMHO. Saya melihat, jalan layang kok lebih mengakomodasi pemilik kendaraan bermotor pribadi daripada pejalan kaki atau pengguna transportasi umum. Mungkin ini yang namanya ‘modernisasi’.

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://blogs.www.friendster.com/t/trackback/540470

Listed below are links to weblogs that reference Bandung, dulu & sekarang :

Comments

Jadi kangen kampung euy..
Tahun 95an hingga 2000an daku nyari2 Stan' eh ternyata di Kebon Bibit :)

Iraha atuh bade tepang?

asf :: http://asep.wordpress.com

Aku punya esai pendek ttg Bandung: sebuah kota yang dalam esai ku itu kusebut kota yang tahu benar rasanya ketegangan antara "pusat" dan "pinggir". Sayangnya tulisan itu tak sesuai dengan spesifikasi blog saya, jadi tak kupasang di blogku. Jika kamu berkenan, saya bisa kirim ke imelmu, mungkin bisa jadi teman dialog ihwal renunganmu ttg Bandung. Salam kenal ya. Jika tak merepotkan, kunjungi blogku yang masih sangat sederhana.(pejalanjauh.blogspot.com)

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .