« August 2006 | Main | October 2006 »

KL

Bagaimana kita boleh mentakrifkan negara rantau yang penuh ragam budaya dan yunik? Ya didatengin dong bo’!
Thanks to Air Asia, yang sudah memberikan tiket gratis di akhir tahun lalu, sehingga saya bisa membelinya jauh-jauh hari.
“Hei Stania. Check out Air Asia web. They are giving away tickets for free,”
“Oh yah….,” respond hesitantly, thinking about my study,”… I will check it out,”
---couple of days later ---
“Hey I already bought the tickets for September,”
“O man! That’s almost one year from now!”
“I know but I think I might have finished my study at that time…”
And guess what? September comes and I haven’t finished my thesis either! But I got the tickets on my hand and the travel must go on…

Kl_1Kuala Lumpur adalah sebuah kota yang bersih, sejauh mata memandang, akan terlihat mobil-mobil melaju teratur, dengan monorail dan Light Rail Train menghiasi langitnya mencuat di selempit gedung-gedung tinggi, sementara O_begitu_ya_kl_1penduduknya yang senantiasa tertib… Weits! Kata siapa? Coba nih liat, gue menemukan sebuah bukti ketidakdisiplinan warga Kuala Lumpur.  Tepat di bawah peringatan “DILARANG MELETAKKAN MOTOSIKAL DI KAWASAN INI”, dua sepeda motor teronggok dengan nyamannya. Ah sama sajalah Indonesia dan Malaysia…:p

Rotin_india2Julin mengajak gue makan masakan khas Malaysia kayak nasi lemak (yang adalah nasi uduk) dan roti India. Tapi tahu deh, perut gue kayaknya gak bisa menerima masakan itu, padahal di Jakarta gue bisa makan apa aja:D Beberapa hari pertama gue milih untuk gak makan dan cuma minum ice tea yang adalah teh dikasih susu putih.

Hari kedua di KL, Yinsan mendrop gue di Mesjid Jamek yang banyak terdapat kios bros produk Korea seharga 3 ringgitan per pieces tapi dijual lagi sama ibu-ibu Mobil_merdekaarisan di Jakarta sampei sepuluh kali lipatnya dalam rupiah. Awal bulan September masih hangat dengan perayaan kemerdekaan. Gue melihat banyak sekali bendera Malaysia yang terpampang. Gak cuma di tempat-tempat publik dan pemerintahan, tapi juga di kap mobil. Hemmm… kayaknya jarang di Indonesia bendera merah putih dipasang di mobil kayak gini pas 17an.

Stania_arifNah, walaupun merantau ke negeri orang, tapi hal yang membuat gue senang di KL adalah… bertemu orang Indonesia!! (halah.. gue memang tidak cocok jadi penjelajah –gak bisa makan masakan lokal, lebih suka ketemu orang Indonesia…). Gue janjian ketemu Arif di SOGO yang letaknya gak jauh dari kantornya. Kita memaksakan diri untuk berfoto (sebenarnya gue yang maksa sih :p) di depan pameran kemerdekaan di pusat perbelanjaan Medan Mara setelah makan siang.

Salah satu tempat dimana gue menghabiskan cukup banyak waktu adalah di toko Silverfishbooksbuku Silverfishbooks dekat Bangsar village. Tempatnya enak, nyaman, seperti perpustakaan sendiri dan  pemiliknya lagi ngumpulin buku karya penulis Indonesia. Gue melihat sudah ada Djenar Maesa Ayu, Putu Wijaya, Laksmi Pamuntjak, Pramoedya Ananta Toer… tapi kok gak ada Seno? Oh… apalah arti senarai sastera Indonesia tanpa Seno? :p
Tapi, sulit untuk menemukan buku berbahasa Melayu di kedai ini. Gue nyari versi bahasa Melayu Ceritalah2nya Karim Raslan gak ada. Dipajang sih, tapi bukan untuk dijual :ppp Katanya gue harus pergi ke Dewan Bahasa dan Pustaka untuk menemukan buku berbahasa Melayu.

Maka berangkatlah saya ke DBP keesokan harinya. Ternyata seperti juga di Indonesia, Malaysia sedang merayakan Bulan Bahasa. Acara ini diperkenalkan tahun 1999 untuk membina tamadun negara bangsa Malaysia dalam era globalisasi dan Stania_di_dbp pemodenan yang diharungi kini (begitulah kata mereka). Kemuncak sambutannya berlangsung setiap bulan September, dengan penglibatan masyarakat dalam pelbagai aktiviti bahasa dan sastera yang diaturkan. BBSN yang sekarang terzahir daripada suatu rentatan kegiatan yang dijalankan semenjak penubuhan DBP. Di sana, seorang staf pria yang hensem berbaik hati mempertemukan saya dengan orang-orang DBP yang bertanya “Kita kenal sasterawan Indonesia, kenapa orang Indonesia tidak kenal dengan penulis (melayu) Malaysia?” Sampai saya pulang membawa 2 buah buku prosiding tebal dengan gratis dan pesan, ‘Bawalah dan sebarkan di Indonesia,’ Nah lo!

Sore, hah, gue sudah janjian dengan Fairy Mahdzan. Sebelum kesana, gue janjian Julin_stania_karyindengan Julin dan Karyin di Petronas karena gue tidak tahu Kayu SS2, tempat kita janjian makan malam dengan Fay. Oke, menara Petronas itu tinggi banget, jadi untuk bisa motret dengan latar belakang itu, harus diambil sudut dari bawah dan itu sangat tidak dianjurkan untuk orang-orang berpipi tembam :p Jadi, lebih bagus kan kalau kita foto-foto di air mancurnya aja, lalu bilang kalau air mancur ini terletak tepat di depan Menara Petronas… hehehe…

Stania_jeroen_fay_julsKalau ada yang suka baca tulisannya Fairy dan menyangka dia anaknya berpostur tinggi besar… hahh… ternyata tidak! Fairy itu imut banget dan manis kayak Ruth Sahanaya. Kita berfoto dong bo’ kan gue banci foto… bareng Jeroen van der Linde-pengelola situs Indahnesia.com- di latar belakang yang susah dibedakan dengan lampu-lampu di SS2 (pis, Jeroen!)

While I was there, I had a chance to meet and talk with Ruhayat X, one of the founders of Neohikayat Press, a new publishing house that aimed to presents Ruhayat_xfringe voice of Malaysia. Their concern arouse from the strict language rules to use the correct Malay in literary books. He tells me that actually, the language widely spoken in Malaysia is Rojak language, the mixture between Malay and other vernacular languages. He believes that by writing the language in its spoken form made the piece more genuine and honest. The fringe voice also means to write stories that happened in society; not the ideal one, but the ‘truth’ captured by the writers. I guess I also experience the same thing with Seno’s pieces that mostly don’t relate with my personal life -but the sincerity in Seno's writing makes him one of my favorite authors.

Fairy_chilis_bagusDespués que eso, yo fui al Mercado del Arte, no lejos de Chinatown. Fairy me llamó y encontramos en una estación de LRT cerca de su casa en Petaling Jaya. Un hecho acerca de Fairy es que ella es tan popular, pero ella es muy humilde. Fui intimidado bastante por su popularidad, pero ella es bondadoso me manejó alrededor de KL y charla. Ella es tan agradable. Fuimos a la Librería del MPH en el 1 Utama Mall y comemos en Chilis. Fuimos luego a IKEA. Un agradable, humilde y chica muy amable. Gracias.

That was my last night in KL. I had to come home again. Although I always try to convince myself that KL is no different than Jakarta, I realize that in many ways, the Malaysia’s capital has gone several steps ahead of my beloved city. Klia_expressThe public facilities that KL gov’t provides is far from Jakartans enjoys for the past…. 28 years? I know that in Jakarta, it would be hard to find cheap, comfortable and fast public transportations like monorail or LRT. Previously, I would say, “Ah, Bang Yos is building that for us, aren’t you, Bang Yos? {Awas kalo enggak!}” But when I rushed into KLCC station near Petronas underground after office hours one day, I knew that I can’t find this thing in Jakarta: people were queuing! And at that time, I recognized that we, Jakartans, Indonesians, can learn something from them.

I don’t regret that I haven’t seen a number of KL tourist sites like KL Tower, Sultan Abdul Samad/Supreme Court building (the architecture is beautiful) or Merdeka Square (that they claimed to have the highest flag pole in the world). I met my friends and amazing people. I think that’s all I ever need.