Saur Marlina Manurung atau yang lebih akrab dengan panggilan Butet Manurung bukan wajah baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Perempuan 34 tahun ini memilih untuk menempuh jalan sunyi yang jarang ditapaki oleh orang lain, the road less traveled. Ia mengabdikan dirinya untuk mengajar anak-anak di suku pedalaman. Melalui organisasi SOKOLA, sarjana Antropologi dan Sastra Indonesia ini membuka pendidikan alternative di sejumlah lokasi, mulai dari Aceh, Jambi, Makassar dan Flores. Ia sendiri masih aktif mengajar anak-anak suku pedalaman Jambi.
Mereka dikenal juga dengan sebutan suku Kubu atau suku Anak Dalam, tetapi memilih untuk disebut sebagai Orang Rimba Jambi. Mereka tinggal di wilayah Marsekal Hulu, Taman Nasional Bukit Duabelas, provinsi Jambi. Jumlah mereka ratusan dan hidup secara nomaden. Dahulu, mereka tidak tersentuh oleh peradaban, tetapi laju pembangunan dan transmigrasi membuat mereka harus berhadapan dengan kebudayaan baru diluar hutan.
Butet yang mulai mengenal mereka saat bekerja sebagai konservasionis di Jambi membelokkan arah menjadi pengajar bagi anak-anak Orang Rimba. Pengabdiannya membuat dia disandingkan sebagai ‘Pahlawan Asia’ versi majalah TIME Asia tahun 2004, bersama dengan bintang film India, Shahruk Khan dan perempuan tunanetra Jerman yang mendirikan sekolah tunantera di Tibet, Sabriye Tenberken. Ia juga mendapat penghargaan ‘Man & Biosphere’ oleh LIPI dan UNESCO tahun 2000.
Belum lama ini, Butet menjadi bintang tamu dalam acara ‘Cuma Perempuan’ di Radio Utan Kayu 89,2 FM. Berikut sekelumit wawancaranya dengan Sandra Sahelangi:
Sandra (S): “Saat memulai kegiatan di Rimba sekitar tahun 1999, bagaimana kondisi mereka saat itu?”
Butet (B): “Waktu itu sekitar tahun 1999 , sudah 25 tahunan mereka mulai bertetangga dengan transmigran. Terus Jalan Lintas Sumatera sudah mulai ada, desakannya mulai tinggi dan mereka tidak memakai (sistem) barter lagi, mereka sudah memakai uang. Jadi waktu itu tipuan-tipuan sering terjadi, kalau mereka jualan hasil hutan ke luar, mereka gak paham hitungan, mereka gak paham dunia luar, mereka curiga juga atau berpikiran terlalu baik… Jadi hal-hal seperti itu yang sering menggelitik tempat saya bekerja dulu... Kenapa gak bikin semacam … ya pendidikan tidak diartikan formal dengan buku dan pena terus waktu itu. Itu awalnya sih. Kesini-kesininya sebenarnya makin gencar. Semuanya illegal logging atau tipuan apapun ya, desakan dunia luar… tapi sudah lebih banyak anak-anak Rimba yang bisa memahami masalah itu.”
S: “Nah kalau pribadi Butet sendiri, sewaktu pertama kali terjun ke Orang Rimba, tentunya ada penolakan-penolakan dari mereka ya. Penolakan seperti apa dan bagaimana cara mengatasinya?”
B: “Ya penolakannya biasanya mereka selalu curiga karena mereka selalu tertipu, selalu buruk dengan dunia luar, jadi sudah di black-labeled aja semuanya. Pasti saya nipu, pasti saya membawa penyakit. Jadi setiap ada yang sakit di mereka, saya yang dimarah-marahin dan diusir…..
Mereka gak percaya ada orang yang bermaksud baik, orang luar ke dalam. Jadi mereka pikir saya pasti punya agenda untuk menipu mereka: mau mengambil tanahnya, atau mau mengkristenkan, atau mengislamkan begitu…atau mau merusak budaya mereka, atau mau mencuri ‘ilmu-ilmu’ mereka…
Pernah saya mencoba untuk mengikuti mereka, saya diusir.
Ada satu-satunya orang yang berbahasa Melayu –karena waktu itu saya belum bisa bahasanya- saya ikutin laki-laki itu dan ngobrol, eh... istrinya ngejar saya pake tombak. Saya harus pergi saat itu juga kan, jam 9 malam. Wah ini gimana…. Atau juga diancam oleh penghulu-penghulu adat bahwa saya mau dipecahin kepalanya… pokoknya hal-hal seperti itu sering sekali.”
S: “Nah, bagaimana caranya mengatasi hal itu semua dan kemudian berhasil membaur dengan mereka?”
B: “Keras kepala aja sih. Pokoknya cuek aja gitu. Diusir, saya ikutin terus dari jauh. Saya harus berada di jarak setengah jam jalan kaki dari mereka. Jadi setiap hari ngunjungin, kalau mau pulang, gak boleh di perkampungannya …. Bertahan aja terus. Tapi kalau sudah ada kejadian yang cukup keras kayak diusir pake tombak tadi.. ya pindah ke lokasi lain. Jadi harus berkeliling di hutan 60.000 hektar itu.“
S: “Ada pendengar yang bertanya, sebenarnya apa saja sih kesulitan dan kebahagiaan paling besar yang dialami?”
B: “Kesulitan yang paling utama yang saya alami saat ini adalah bagaimana orang luar bisa mengerti apa yang mereka mau. Itu sulit sekali. Jadi kebanyakan orang luar seperti kita ini masih berpikir mereka itu orang yang miskin dan bodoh atau masih perlu rumah, baju, agama… Nah, konsep baju-rumah-agama itu tidak sama dengan yang mereka pikir, padahal mereka juga punya konsep tentang baju-rumah-agama itu. Hutan rumah mereka, agama juga mereka punya. Kadang orang menyumbang baju, menyumbang rumah, membeli hutannya dan mereka pikir itu bantuan, tapi itu sebenarnya menyakiti hati mereka.”
S: “Kalau begitu apa yang mereka butuhkan?”
B: “Ya dibiarkan seperti itu. Diberikan kebebasan untuk bisa seperti itu. Jangan diusik-usik. Kebanyakan kan selama ini mereka diusik, walaupun namanya bantuan, atau memang berniat mau mengganggu, seperti logging atau perambahan hutan …
yang seperti itu… Hukum benar-benar tidak berdaya disana. Jadi itu yang mendesak mereka terus. Seolah-olah mereka dipaksa untuk menjadi seperti orang luar, padahal bukan itu yang mereka inginkan. Ada konsep kebahagiaan yang berbeda. Itu yang saya bingung bagaimana caranya agar orang luar bisa menerima itu.
Sementara kesenangan yang paling saya senangi itu kalau anak murid saya bisa mempraktikkan baca-tulisnya di lapangan. Misalnya setelah belajar baca tulis, orangtuanya mengajak ke pasar. Sekarang, kalau orang tua sudah mau belanja ke pasar, mau jual hasil hutan ke tauke misalnya, mereka bawa 1 anak yang sudah baca tulis,'Ayo Ikut, biar gak ketipu nih…' Kalau melihat itu saya senang sekali. Terutama saat berantem dengan orang desa karena kasus tanah. Saat perjanjian batas tanah wilayah adat dan wilayah orang desa ditulis kembali, anak-anak yang maju dan membacakan ulang. Dulu, Orang Rimba hanya cap jempol surat perjanjian yang mereka gak tahu isinya apa. Jadi selalu jadi kasus. Orang desa bilangnya sungai A padahal sebenarnya sungai B. Kalau sampai ke polisi dan ke kepala desa, yang menang selalu orang desa. Jadi waktu perjanjian dilakukan lagi sepuluh tahun sesudahnya, anak Rimba bilang ,’Jangan di cap jempol dulu, Pak Tumenggung, Pak Kepala Suku, saya baca dulu… bla-bla-bla-bla…’ Saya bangga sekali melihat dari jauh dan orang-orang tuanya pada mengangguk, nah… itu yang sangat menyenangkan saya.”
S: “Bagaimana strateginya mengajar anak rimba, yang notabene belum tahu apa-apa soal pendidikan. Terutama soal belajar dan beretika..”
B: “Ya, pertamanya berbaju seperti mereka, makan makanan mereka, hidup seperti mereka, kebetulan gak masalah. Saya memang orang yang makan apa aja, bisa tidur dimana aja, berpakaian pun ya oke-oke aja gitu. Saya lakuin itu
semua, itu pun belum cukup untuk membuat mereka mau dekat sama saya, jadi awal-awalnya ngekor aja terus. Sampai ada kesempatan yang saya bisa nunjukin saya mau berteman baik dan gak ada maksud untuk nyelakain mereka. Jadi pas mereka sakit, saya bantu mereka untuk berbondong-bondong ke dokter. Waktu itu ada wabah yang si dukunnya gak ngerti apa. Itu muntaber. Jadi ada penyakit-penyakit yang dipahami dukun di rimba, bukan penyakit luar. Saat itu kita semua terserang muntaber, TBC, jadi kita konvoi ke Puskesmas. Itu salah satu yang bikin dekat. Jadi 6 bulan saya berkeliling di situ gak diterima-terima, akhirnya bulan ketujuh baru ada satu anak yang datang ke saya, mewakili tiga temannya dan bilang ’Saya mau belajar. Saya mau sekolah...’
Jadi saya gak pernah menawarkan sesuatu tentang sekolah, karena awalnya sangat sulit. Saya ubah strategi terus… sampai ada anak yang bicara begitu, ‘Saya pikir Bu, Orang Rimba sudah harus mulai sekolah, karena kami ketipu terus. Karena kami sudah pakai uang, kami gak ngerti ngitungnya, ketipu terus’. Jadi strateginya itu harus menunjukkan kalau mereka itu sebenarnya membutuhkan baca-tulis-hitung, bukan dalam arti pendidikan formal yang rumit ya.”
S: “Jadi pembauran itu, menerima mereka itu hal yang paling penting. Jangan datang-datang ‘Harus bisa baca! Harus bisa tulis!’”
B: “Ya, saya sendiri juga bepikir begitu. Saya sendiri sudah mengalami banyak culture shock ya. Saya pikir ini manusia apa, gini hari kok masih kayak begini-begini…. Kalau mereka mau kan tinggal jual satu pohon harganya sudah jutaan… tapi lama kelamaan nilai-nilai mereka berbenturan sama nilai-nilai saya kan. Jadi saya belajar bahwa nilai-nilai setiap orang tidak selalu sama. Kenyamanan, kebahagiaan atau kekayaan itu tidak sama. Jadi buat mereka, hutan yang ada itu kenyamanan, rumah mereka.”
S: “Nah soal alokasi anggaran pendidikan saat ini, bagaimana Anda menilainya? Banyak pihak yang mengeluhkan karena masih sedikit. Apakah sudah perlu adanya anggaran pendidikan untuk suku-suku di pedalaman, misalnya?”
B: “Saya gak tahu apa-apa tentang itu. Saya bergerak sendiri, gak pernah ada kaitannya denagn pemerintah. Tapi kalau menurut saya, pendidikan itu lebih penting pada kualitasnya daripada biaya ini, biaya itu. Murid-murid sering saya bawain koran dan beberapa berita di koran itu bilang anak-anak di sini gak bisa sekolah karena gentengnya bocor, atau gurunya gak datang, atau segala macem. Buat mereka itu hal yang terlalu manja gitu. ‘Oh manja sekali, sama pemerintah minta ngeluh-ngeluh ini itu’. Buat mereka, yang penting ada guru, ada murid ada komitmen. Itu sudah lebih dari cukup. Dan belajar jangan selalu disimpulkan dengan seragam yang lengkap, gedung yang bagus atau buku-buku yang macam-macam. Lebih baik ke aplikasinya.”
S: “Bagaimana tanggapan Anda tentang pendapat bahwa semangat belajar anak kota lebih buruk daripada anak di pedalaman?”
B: “Apa ya, menurut saya, pendidikan di kota kebanyakan mengasingkan anaknya dari realitas kehidupannya sendiri. Mereka belajar Perdana Menteri negara lain, tapi lurahnya sendiri gak tahu, mereka belajar jarak ke Saturnus, tapi bahkan mengenal RT-RWnya sendiri tidak.”
S: “Apa saran Butet untuk mereka yang ingin terlibat dalam pendidikan alternatif khususnya untuk anak suku di pedalaman?”
B: “Yang pasti cinta lingkungan dan cinta anak-anak dan tidak memaksakan frame tertentu kepada mereka, apalagi kalau kita bawa-bawa etika atau agama. Jangan pernah berpikir kita selalu yang benar. Etika seperti itu tidak ada di rimba.Waktu saya kasih soal ke anak murid, saya minta buku itu untuk saya lihat, mereka melempar buku itu ke muka saya ‘Ini Bu’ tanpa bermaksud mau melempar ke muka. Waktu saya mau marah, dia sudah bilang ‘Ah, Ibu gak bisa nangkep’ Ya udah, saya gak bisa marah lagi. Jadi saya gak bisa bilang ‘Aduh ini murid kurang ajar.’….Saya pun bisa nunjuk papan tulis dengan kaki dan mereka pun nunjuk papan tulis dengan kaki. Etika-etika yang kita anut disini gak kepake di rimba.”
Bertemu dengan Butet Manurung jangan berpikir kalau akan bertemu dengan seorang perempuan Batak yang tegas, tegap dan bersuara keras :D Butet Manurung berperawakan kurus, cenderung kecil (setidaknya dibanding saya :p) dan bersuara lemah lembut seperti putri Solo. Seusai wawancara, Butet masih menyempatkan diri untuk mengobrol. Dia bercerita bagaimana sulitnya untuk menjalin kontak dengan dunia luar saat mengajar di hutan Jambi karena tidak ada sinyal. Tapi suatu hari, telepon seluler Butet berbunyi di sebuah bukit. Mulai saat itu, Butet selalu pergi ke bukit itu kalau ingin melihat SMS atau menelpon keluar. Anak-anak Rimba menyebutnya ‘Bukit Setan’ karena di bukit itu, ia selalu berbicara sendiri, seperti berbicara dengan setan.
Sekarang, Butet sudah kembali mengajar anak-anak Orang Rimba Jambi, hidup bersama mereka, memakan makanan mereka, mengajar dengan kaki, menerima lemparan buku sambil sesekali berlari ke Bukit Setan. Butet terus mengajar karena ia dan anak-anak rimba percaya, bahwa pendidikan adalah pembebasan.
*) Gambar Orang Rimba diambil dari SOKOLA, Alternative Education Community for Indigenouse Forest People.