« March 2006 | Main | June 2006 »

Working in a radio

This week, my radio is celebrating its seventh anniversary through a festival tagged “Information belongs to All” (Informasi Milik Semua). We are holding series of discussions, movie screenings at TUK, book launching, musical gigs, etc. Asia Calling also participated at the opening ceremony. We conducted a special “Asia Calling Quiz” with various prizes, such as exclusive Asia Calling T-shirts (which I printed on Mal Ambassador self-made product kiosk the night before), a golden globe (pretended as a winning trophy) and candies to give away. Rebecca and I were hosting the show, while 68H’s crew and the audience participated (Uh, I looked fat in this picture…)

Asia_calling_quizI never thought to work in a radio before.
I always want to be a print journalist. But those print media outlets never call me back to have an interview or else, not as fast as a broadcast station who hired me in a first place. I ended up working in a TV and now, in a radio station. My boyfriend said, “It’s because your speaking is more convincing than your writings.”  Ugh…
Many people don't consider radio as a news media. Back in Soeharto era, all radio stations in Indonesia had to relay news programs from government-owned radio station, RRI. They were not allowed to produce their own news packages. But after 1998, the access of information opened and radio can produce news reports. My radio, KBR 68H was formed in 1999 as a part of the Institute for Studies on Free Flow of Information or ISAI, a non governmental organization who work to establish the access of information in Indonesia. I do feel proud to be part of my radio history.   
But honestly, I never listen much to a radio (except my own radio show at present.. hehehe). I’m not a radio fan or an ‘audio person’. I always get distracted if I have to do something in a room with music flows in it. In high schools, I only listened to Prambors simply because many students in my schools were listening to it. The station had a popular “Tenda Mangkal Prambors”, a monthly off-air event filled with band performances and various attractions.
Living in cities like Jakarta or Bandung, I can fulfill the needs of information from TV, newspapers, magazines and internet -not merely from radio. But that’s not the case in remote places such as Bintuni and Manokwari in Irian Jaya Barat; or Tual and Masohi in Maluku. Those are the locations of KBR 68H radio branches in far-off areas. There, radio becomes a powerful tool to disseminate information because of its availability and inexpensive device. People can buy a transistor radio as low as Rp. 10.000. Radio broadcast can also penetrate illiterate communities -something that can’t be done by print media.
In Bintuni, a multinational energy company, BP, will start operating its natural gas fields next year. In return, government will receive 6,2 billion US dollar for the next 20 years. At the local level, an isolated place like Bintuni suddenly has to deal with international project which cost millions of dollar. Usually, in an immense mining project like that, many problems will sensitively occur, especially if they’re not well managed. Media is critically needed there as a medium to handle potential problems such as social discrepancy, land rows, human rights issues, etc. It simply works to provide public room for people to communicate and solve the problems by their own. 
Sure, working in service sectors such as media can’t give you concrete results in terms of public education. It takes several years, decades or (perhaps) centuries to see the changes. But, hey, a thousand mile journey has to start with a step, right? :)
Frankly, I’m preparing to change my line of work in the near future, but somehow I feel that what I’ve been looking for is right in front of my nose.      

Sayur asem dalam gelas plastik

Makannya pake garpu. Nyammm.... !

Sayur_asem_dlm_cangkir




Penulis muda

Anna Karenina dapat tugas. Ia harus mewawancarai seorang penulis muda. Perempuan cantik yang insinyur. Baru menulis tiga novel yang mencatat oplah segede bukit, dengan rekomendasi setinggi langit. Sebelum mewawancara, Anna membeli ketiga novel dia. Tidak ada satu pun yang dapat dimengerti. Anna heran, mengapa orang ternama di belakang sampulnya memberikan rekomendasi setinggi langit. Mulai dari politikus, dekan fakultas, penyanyi kondang, ekonom, anggota legislatif, sutradara terkenal, redaktur majalah populer dan sebangsanya.
Anna pusing membaca cerita yang dituturkan. Penulis Muda memakai banyak istilah teknis, medis dan akademis yang berkesan tempelan. Dia mencampurkan satu kata dengan kata lain sampai tercipta satu kalimat dengan seribu anak kalimat. Menaruh frasa di luar konteks, dengan alasan mendekonstruksi makna. Mungkin penulisnya ingin mengakali pembaca, agar kebodohannya tidak sampai terbuka.
‘If you can’t convince them, confuse them’, adagium utama bagi mereka yang tidak ingin kehilangan muka. Penulis Muda mungkin merasa, jika pembaca kebetulan bukan ahli sastra atau pakar algoritma, ia dapat mengklaim: ‘maaf, saya mumpuni dalam sastra dan jenius di algoritma,’ sambil terus meracau dengan kalimat tak terstruktur serta berpura-pura sok jago dalam bersastra dan beralgoritma.
Penulis Muda sepertinya tidak pernah belajar, bahwa prinsip utama menulis yang dicamkan guru bahasa adalah KISS: Keep It Simple, Stupid!
Bukan merangkai kata yang tak indah dan tak bermakna hanya untuk mencari muka.  Mungkin dia memang stupid!

****

Hari wawancara tiba.
Anna bergegas ke Pondok Kelapa, rumah Penulis Muda.
Anna memulai wawancara. Penulis Muda mulai ber-bla-bla-bla…
“Novel Anda diimpor ke luar negeri?”
“Ih… iya, tahu aja. Dibahas loooh, sama Profesor di sana, untuk dijadikan contoh karya penulis muda Indonesia….. bla-bla-bla”
‘Hmmmm… Pasti maksud Profesornya, sebagai contoh karya paling buruk…’
“Sebagai seseorang yang berlatar belakang sains, apakah Anda pernah mendengar Occam’s Razor?”
“Yah, ehm… Dikit… itu kan… Piso… buat motong apa ya… kayaknya tante saya sih pernah beli waktu ke Paris …..”
“Occam’s Razor adalah konsep kesederhanaan yang digunakan dalam sains dimana jika terdapat dua pernyataan yang bisa menjelaskan suatu fenomena, maka yang diambil adalah penjelasan yang paling singkat dan sederhana. Yang saya ingin tanyakan, tulisan Anda tidak mencerminkan konsep ini, padahal dalam berbagai media, Anda selalu menekankan diri Anda sebagai seorang ilmuwan yang penulis. Anda malah cenderung menjelaskan suatu hal dalam bahasa yang sulit dicerna dan susah dimengerti. Mungkin untuk novel, Anda bebas melakukannya. Tapi kecenderungan ini saya temukan paling banyak pada esai-esai Anda di kolom majalah berita, yang ditujukan justru untuk khalayak ramai. Bukankah dengan memakai bahasa yang lebih ringkas dan sederhana, lebih banyak informasi yang dapat Anda sampaikan kepada pembaca? Komentar Anda?”
Penulis Muda terdiam. Dahinya berkerut, tanda berpikir keras.
Anna menghela napas.

***

Anna pulang menjelang senja.
Penulis muda berparas cantik sudah selesai diwawancara.
Barthes ternyata salah saat ia berkata bahwa penulis mati dalam karyanya, The Death of the Author. Di sini, justru penulis yang dijual, bukan karyanya.
Citra tak lebih dari sebuah komoditas yang selalu mengikuti selera pasar. Terutama saat khalayak yang sudah dikondisikan dengan mimpi-mimpi dan budaya instan, menginginkan suatu produk unggul yang mencakup kecantikan, kenyamanan, intelegensia, moralitas, spiritualitas… sebut saja semua yang diinginkan. Kalau ada yang sanggup mewujudkannya, maka dijamin akan laku keras seperti pisang goreng. Siapa yang mampu memenuhi harapan, akan dipuja bak bintang sinema, meskipun segalanya segera berubah menjadi simulakra.
Anna tidak ingin mengubah dunia.
Ia hanya berharap, kalau Penulis Muda adalah Raja yang muncul di singgasana tanpa memakai busana, dimana tidak ada orang yang berani berkata-kata, hanya memuja dan menuruti perintahnya sambil terus mengeluarkan pujian berbunga; dirinya bisa menjadi bocah desa yang berani maju ke depan Raja sambil berkata :’Kamu tidak berbusana,’ dan melihat pipi Penulis Muda memerah seperti pantat monyet makaka.   

Butet

ButetSaur Marlina Manurung atau yang lebih akrab dengan panggilan Butet Manurung bukan wajah baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Perempuan 34 tahun ini memilih untuk menempuh jalan sunyi yang jarang ditapaki oleh orang lain, the road less traveled. Ia mengabdikan dirinya untuk mengajar anak-anak di suku pedalaman. Melalui organisasi SOKOLA, sarjana Antropologi dan Sastra Indonesia ini membuka pendidikan alternative di sejumlah lokasi, mulai dari Aceh, Jambi, Makassar dan Flores. Ia sendiri masih aktif mengajar anak-anak suku pedalaman Jambi.
     Mereka dikenal juga dengan sebutan suku Kubu atau suku Anak Dalam, tetapi memilih untuk disebut sebagai Orang Rimba Jambi. Mereka tinggal di wilayah Marsekal Hulu, Taman Nasional Bukit Duabelas, provinsi Jambi. Jumlah mereka ratusan dan hidup secara nomaden. Dahulu, mereka tidak tersentuh oleh peradaban, tetapi laju pembangunan dan transmigrasi membuat mereka harus berhadapan dengan kebudayaan baru diluar hutan.
     Butet yang mulai mengenal mereka saat bekerja sebagai konservasionis di Jambi membelokkan arah menjadi pengajar bagi anak-anak Orang Rimba. Pengabdiannya membuat dia disandingkan sebagai ‘Pahlawan Asia’ versi majalah TIME Asia tahun 2004, bersama dengan bintang film India, Shahruk Khan dan perempuan tunanetra Jerman yang mendirikan sekolah tunantera di Tibet, Sabriye Tenberken. Ia juga mendapat penghargaan ‘Man & Biosphere’ oleh LIPI dan UNESCO tahun 2000.
     Belum lama ini, Butet menjadi bintang tamu dalam acara ‘Cuma Perempuan’ di Radio Utan Kayu 89,2 FM. Berikut sekelumit wawancaranya dengan Sandra Sahelangi:       
Sandra (S): “Saat memulai kegiatan di Rimba sekitar tahun 1999, bagaimana kondisi mereka saat itu?”
Butet (B): “Waktu itu sekitar tahun 1999 , sudah 25 tahunan mereka mulai bertetangga dengan transmigran. Terus Jalan Lintas Sumatera sudah mulai ada, desakannya mulai tinggi dan mereka tidak memakai (sistem) barter lagi, mereka sudah memakai uang. Jadi waktu itu tipuan-tipuan sering terjadi, kalau mereka jualan hasil hutan ke luar, mereka gak paham hitungan, mereka gak paham dunia luar, mereka curiga juga atau berpikiran terlalu baik… Jadi hal-hal seperti itu yang sering menggelitik tempat saya bekerja dulu... Kenapa gak bikin semacam … ya pendidikan tidak diartikan formal dengan buku dan pena terus waktu itu. Itu awalnya sih. Kesini-kesininya sebenarnya makin gencar. Semuanya illegal logging atau tipuan apapun ya, desakan dunia luar… tapi sudah lebih banyak anak-anak Rimba yang bisa memahami masalah itu.”

S: “Nah kalau pribadi Butet sendiri, sewaktu pertama kali terjun ke Orang Rimba, tentunya ada penolakan-penolakan dari mereka ya. Penolakan seperti apa dan bagaimana cara mengatasinya?” 
B: “Ya penolakannya biasanya mereka selalu curiga karena mereka selalu tertipu, selalu buruk dengan dunia luar, jadi sudah di black-labeled aja semuanya. Pasti saya nipu, pasti saya membawa penyakit. Jadi setiap ada yang sakit di mereka, saya yang dimarah-marahin dan diusir…..
Butet_dan_anak_orang_rimba_2Mereka gak percaya ada orang yang bermaksud baik, orang luar ke dalam. Jadi mereka pikir saya pasti punya agenda untuk menipu mereka: mau mengambil tanahnya, atau mau mengkristenkan, atau mengislamkan begitu…atau mau merusak budaya mereka, atau mau mencuri ‘ilmu-ilmu’ mereka…
Pernah saya mencoba untuk mengikuti mereka, saya diusir.
Ada satu-satunya orang yang berbahasa Melayu –karena waktu itu saya belum bisa bahasanya- saya ikutin laki-laki itu dan ngobrol, eh... istrinya ngejar saya pake tombak. Saya harus pergi saat itu juga kan, jam 9 malam. Wah ini gimana…. Atau juga diancam oleh penghulu-penghulu adat bahwa saya mau dipecahin kepalanya… pokoknya hal-hal seperti itu sering sekali.”

S: “Nah, bagaimana caranya mengatasi hal itu semua dan kemudian berhasil membaur dengan mereka?”
B: “Keras kepala aja sih. Pokoknya cuek aja gitu. Diusir, saya ikutin terus dari jauh. Saya harus berada di jarak setengah jam jalan kaki dari mereka. Jadi setiap hari ngunjungin, kalau mau pulang, gak boleh di perkampungannya …. Bertahan aja terus. Tapi kalau sudah ada kejadian yang cukup keras kayak diusir pake tombak tadi.. ya pindah ke lokasi lain. Jadi harus berkeliling di hutan 60.000 hektar itu.“

S: “Ada pendengar yang bertanya, sebenarnya apa saja sih kesulitan dan kebahagiaan paling besar yang dialami?”
B: “Kesulitan yang paling utama yang saya alami saat ini adalah bagaimana orang luar bisa mengerti apa yang mereka mau. Itu sulit sekali. Jadi kebanyakan orang luar seperti kita ini masih berpikir mereka itu orang yang miskin dan bodoh atau masih perlu rumah, baju, agama… Nah, konsep baju-rumah-agama itu tidak sama dengan yang mereka pikir, padahal mereka juga punya konsep tentang baju-rumah-agama itu. Hutan rumah mereka, agama juga mereka punya. Kadang orang menyumbang baju, menyumbang rumah, membeli hutannya dan mereka pikir itu bantuan, tapi itu sebenarnya menyakiti hati mereka.”

S: “Kalau begitu apa yang mereka butuhkan?”
B: “Ya dibiarkan seperti itu. Diberikan kebebasan untuk bisa seperti itu. Jangan diusik-usik. Kebanyakan kan selama ini mereka diusik, walaupun namanya bantuan, atau memang berniat mau mengganggu, seperti logging atau perambahan hutan … Antropolog_dodi_dan_anakanak_orang_rimba yang seperti itu… Hukum benar-benar tidak berdaya disana. Jadi itu yang mendesak mereka terus. Seolah-olah mereka dipaksa untuk menjadi seperti orang luar, padahal bukan itu yang mereka inginkan. Ada konsep kebahagiaan yang berbeda. Itu yang saya bingung bagaimana caranya agar orang luar bisa menerima itu.
Sementara kesenangan yang paling saya senangi itu kalau anak murid saya bisa mempraktikkan baca-tulisnya di lapangan. Misalnya setelah belajar baca tulis, orangtuanya mengajak ke pasar. Sekarang, kalau orang tua sudah mau belanja ke pasar, mau jual hasil hutan ke tauke misalnya, mereka bawa 1 anak yang sudah baca tulis,'Ayo Ikut, biar gak ketipu nih…' Kalau melihat itu saya  senang sekali. Terutama saat berantem dengan orang desa karena kasus tanah. Saat perjanjian batas tanah wilayah adat dan wilayah orang desa ditulis kembali, anak-anak yang maju dan membacakan ulang. Dulu, Orang Rimba hanya cap jempol surat perjanjian yang mereka gak tahu isinya apa. Jadi selalu jadi kasus. Orang desa bilangnya sungai A padahal sebenarnya sungai B. Kalau sampai ke polisi dan ke kepala desa, yang menang selalu orang desa. Jadi waktu perjanjian dilakukan lagi sepuluh tahun sesudahnya, anak Rimba bilang ,’Jangan di cap jempol dulu, Pak Tumenggung, Pak Kepala Suku, saya baca dulu… bla-bla-bla-bla…’ Saya  bangga sekali melihat dari jauh dan orang-orang tuanya pada mengangguk, nah… itu yang sangat menyenangkan saya.”

S: “Bagaimana strateginya mengajar anak rimba, yang notabene belum tahu apa-apa soal pendidikan. Terutama soal belajar dan beretika..”
B: “Ya, pertamanya berbaju seperti mereka, makan makanan mereka, hidup seperti mereka, kebetulan gak masalah. Saya memang orang yang makan apa aja, bisa tidur dimana aja, berpakaian pun ya oke-oke aja gitu. Saya lakuin itu Tak_ada_gambar_dua_gunung_mengapit_matah semua, itu pun belum cukup untuk membuat mereka mau dekat sama saya, jadi awal-awalnya ngekor aja terus. Sampai ada kesempatan yang saya bisa nunjukin saya mau berteman baik dan gak ada maksud untuk nyelakain mereka. Jadi pas mereka sakit, saya bantu mereka untuk berbondong-bondong ke dokter. Waktu itu ada wabah yang si dukunnya gak ngerti apa. Itu muntaber. Jadi ada penyakit-penyakit yang dipahami dukun di rimba, bukan penyakit luar. Saat itu kita semua terserang muntaber, TBC, jadi kita konvoi ke Puskesmas. Itu salah satu yang bikin dekat. Jadi 6 bulan saya berkeliling di situ gak diterima-terima, akhirnya bulan ketujuh baru ada satu anak yang datang ke saya, mewakili tiga temannya dan bilang ’Saya  mau belajar. Saya mau sekolah...’
Jadi saya gak pernah menawarkan sesuatu tentang sekolah, karena awalnya sangat sulit. Saya ubah strategi terus… sampai ada anak yang bicara begitu, ‘Saya pikir Bu, Orang Rimba sudah harus mulai sekolah, karena kami ketipu terus. Karena kami sudah pakai uang, kami gak ngerti ngitungnya, ketipu terus’. Jadi strateginya itu harus menunjukkan kalau mereka itu sebenarnya membutuhkan baca-tulis-hitung, bukan dalam arti pendidikan formal yang rumit ya.”

S: “Jadi pembauran itu, menerima mereka itu hal yang paling penting. Jangan datang-datang ‘Harus bisa baca! Harus bisa tulis!’”
B: “Ya, saya sendiri juga bepikir begitu. Saya sendiri sudah mengalami banyak culture shock ya. Saya pikir ini manusia apa, gini hari kok masih kayak begini-begini…. Kalau mereka mau kan tinggal jual satu pohon harganya sudah jutaan… tapi lama kelamaan nilai-nilai mereka berbenturan sama nilai-nilai saya kan. Jadi saya belajar bahwa nilai-nilai setiap orang tidak selalu sama. Kenyamanan, kebahagiaan atau kekayaan itu tidak sama. Jadi buat mereka, hutan yang ada itu kenyamanan, rumah mereka.”

S: “Nah soal alokasi anggaran pendidikan saat ini, bagaimana Anda menilainya? Banyak pihak yang mengeluhkan karena masih sedikit. Apakah sudah perlu adanya anggaran pendidikan untuk suku-suku di pedalaman, misalnya?”
B: “Saya gak tahu apa-apa tentang itu. Saya bergerak sendiri, gak pernah ada kaitannya denagn pemerintah. Tapi kalau menurut saya, pendidikan itu lebih penting pada kualitasnya daripada biaya ini, biaya itu. Murid-murid sering saya bawain koran dan beberapa berita di koran itu bilang anak-anak di sini gak bisa sekolah karena gentengnya bocor, atau gurunya gak datang, atau segala macem. Buat mereka itu hal yang terlalu manja gitu. ‘Oh manja sekali, sama pemerintah minta ngeluh-ngeluh ini itu’. Buat mereka, yang penting ada guru, ada murid ada komitmen. Itu sudah lebih dari cukup. Dan belajar jangan selalu disimpulkan dengan seragam yang lengkap, gedung yang bagus atau buku-buku yang macam-macam. Lebih baik ke aplikasinya.”

S: “Bagaimana tanggapan Anda tentang pendapat bahwa semangat belajar anak kota lebih buruk daripada anak di pedalaman?”
B: “Apa ya, menurut saya, pendidikan di kota kebanyakan mengasingkan anaknya dari realitas kehidupannya sendiri. Mereka belajar Perdana Menteri negara lain, tapi lurahnya sendiri gak tahu, mereka belajar jarak ke Saturnus, tapi bahkan mengenal RT-RWnya sendiri tidak.”
   
S: “Apa saran Butet untuk mereka yang ingin terlibat dalam pendidikan alternatif khususnya untuk anak suku di pedalaman?”
B: “Yang pasti cinta lingkungan dan cinta anak-anak dan tidak memaksakan frame tertentu kepada mereka, apalagi kalau kita bawa-bawa etika atau agama. Jangan pernah berpikir kita selalu yang benar. Etika seperti itu tidak ada di rimba.Waktu saya kasih soal ke anak murid, saya minta buku itu untuk saya lihat, mereka melempar buku itu ke muka saya ‘Ini Bu’ tanpa bermaksud mau melempar ke muka. Waktu saya mau marah, dia sudah bilang ‘Ah, Ibu gak bisa nangkep’ Ya udah, saya gak bisa marah lagi. Jadi saya gak bisa bilang ‘Aduh ini murid kurang ajar.’….Saya pun bisa nunjuk papan tulis dengan kaki dan mereka pun nunjuk papan tulis dengan kaki. Etika-etika yang kita anut disini gak kepake di rimba.” 

Stania_butetBertemu dengan Butet Manurung jangan berpikir kalau akan bertemu dengan seorang perempuan Batak yang tegas, tegap dan bersuara keras :D Butet Manurung berperawakan kurus, cenderung kecil (setidaknya dibanding saya :p) dan bersuara lemah lembut seperti putri Solo. Seusai wawancara, Butet masih menyempatkan diri untuk mengobrol. Dia bercerita bagaimana sulitnya untuk menjalin kontak dengan dunia luar saat mengajar di hutan Jambi karena tidak ada sinyal. Tapi suatu hari, telepon seluler Butet berbunyi di sebuah bukit. Mulai saat itu, Butet selalu pergi ke bukit itu kalau ingin melihat SMS atau menelpon keluar. Anak-anak Rimba menyebutnya ‘Bukit Setan’ karena di bukit itu, ia selalu berbicara sendiri, seperti berbicara dengan setan.
     Sekarang, Butet sudah kembali mengajar anak-anak Orang Rimba Jambi, hidup bersama mereka, memakan makanan mereka, mengajar dengan kaki, menerima lemparan buku sambil sesekali berlari ke Bukit Setan. Butet terus mengajar karena ia dan anak-anak rimba percaya, bahwa pendidikan adalah pembebasan.

*) Gambar Orang Rimba diambil dari SOKOLA, Alternative Education Community for Indigenouse Forest People.

Ibu, Playboy dan Pram

Ibu saya seperti Nyai Ontosoroh: suka belajar berbagai hal dengan upayanya sendiri. Meskipun tidak lulus sarjana, tetapi dia bekerja sebagai akuntan otodidak selama 20 tahun di perusahaan ayah saya. Sekarang, setelah pegawai ayah saya banyak yang pergi dan anaknya sudah bekerja sendiri, ibu saya kembali menjadi ibu rumah tangga.

Tetapi urusan domestik tidak membungkam dia. Sambil menyetrika, dia melahap seluruh acara televisi dengan cermat –mulai dari serial kartun SpongeBob SquarePants sampai dialog politik Soegeng Sarjadi Forum. Ibu saya hafal seluruh wajah yang pernah tayang di televisi  - mulai dari Tamrin Amal Tomagola sampai Yunita Ababil. “Ah, Kiki ngomongnya sama nih seperti kemarin, “ begitu komentarnya saat melihat Hermawan Sulistio memberikan analisa dalam wawancara di program berita pagi.

Setelah seluruh pekerjaan rumahnya selesai dan sudah bosan menonton televisi, Ibu mulai melahap koran dan majalah langganan. Terakhir, koleksi buku saya di lemari ruang tengah.

Ia membuka ‘Sihir Perempuan’ karangan Intan Paramaditha. “Loh, kok di balik pintu merah, ada hutan yang luas sih? Terus, Sindelarat itu pasti plesetannya Cinderella kan…“  Ia melanjutkan membaca, terlihat bosan dan meninggalkan saja buku itu di meja. “Buku yang aneh” gumamnya sambil berlalu.

Buku kesukaannya adalah ‘Beauty Case’, chicklit asli Indonesia karangan Icha Rahmanti. Ia membacanya dengan antusias, membahasnya dengan bersemangat, lalu mengulangi terus teori tropi yang dikemukakan Nadja, tokoh utama dalam cerita itu. Icha Rahmanti, ibu saya penggemar berat karya chicklitmu! 

Tetapi ibu saya tidak suka karya Pramoedya Ananta Toer. Saya tidak tahu mengapa. Mungkin karena Pram suka mengkritik budaya Jawa sementara ibu saya sangat bangga akan kejawaaannya.

Sabtu sore, saya mendapati Ibu sedang termenung. Saya baru pulang dari Gramedia, membeli ‘Playboy’ edisi perdana dan buku Pram, ‘Saya Terbakar Amarah Sendirian!’. Kata majalah PS, buku wawancara Pram dengan André  Buku Vltchek dan Rossie Indira itu adalah buku yang sedang hangat dicari. Sementara ‘Playboy’ saya beli semata untuk dikoleksi. Tepat tanggal rilisnya, sudah ada 4 eksemplar majalah Playboy di kantor saya, lengkap dengan klaim kepemilikannya: “Ini punya Andy Budiman”; “Ini punya Ade Wahyudi”; “Ini punya Heri Saktiyanto” dan satu lagi milik kantor. Saya sudah tuntas membacanya. Saya hanya membeli kalau-kalau tidak akan ada edisi kedua.

Saya menghampiri ibu saya. Dia mulai mengomel. Ternyata di ruang tengah masih banyak pakaian menumpuk dan saya, parasit lajang yang tak tahu diri, malah menghabiskan waktu di toko buku daripada membantu melipat baju.

Ayah saya datang. Kemarin dia pulang dari Semarang. Ibu saya mulai mengarahkan omelannya kepada kami berdua. Kasihan Ayah saya. Saya mengambil majalah Playboy edisi perdana. Dengan mata, saya bertanya kepada Ayah tanpa bersuara,’Papa sudah baca Playboy?’

Ayah saya baru bangun tidur, jiwanya masih setengah melayang. Sedikit mengantuk, ia mengambil majalah merah bersampul Andhara yang saya bawa. Ibu saya masih mengomel. Saya mengambil buku Pram dan mulai duduk disampingnya.

Hari Sabtu kemarin, kami bertiga menghabiskan akhir pekan bersama dengan cara kami masing-masing: Ibu mengomel, Ayah membaca Playboy dan saya membaca wawancara Pram.