Kopi
Kata Seno, kopi itu ikon budaya baru. Ia lalu memulai argumennya dengan menunjukkan berbagai macam pilihan menu di “kafe kopi”. Bukan cuma kopi tubruk, tapi juga coffe latte dan mocha latte, dari cappuccino sampai espresso. Semua itu merupakan seni kopi sebagai bagian dari ilmu kopi, the science of coffee. Adalah ilmu kopi yang mengembangkan seni kopi, teorinya. Setidaknya bagi dia, pengetahuan atas riwayat suatu kopi memberi nuansa tambahan kepada rasa kopi itu. Demikianlah seni dan ilmu melebur dalam budaya. Namun ‘budaya kopi’ yang
dimaksud bukan sebagai duduk-duduk di kafe sambil ngopi, melainkan berkembangnya ilmu kopi dari sekedar memproses dan mengolah kopi, menjadi perbincangan ilmiah atas kopi; bukan sebagai tanaman, tetapi sebagai kebudayaan. Ia lalu menceritakan diskusi “The Café and Public Life” di Centre College, Dallas, Kentucky, Amerika, yang memperdebatkan kopi sebagai bagian dari citra kelas. Bagaimana kopi -dalam konteks budaya- sudah menjadi mata kuliah di sejumlah universitas di sana, dengan dosen para profesor yang berlatar belakang dari kimia sampai antropologi dan sejarah.
Kata Dewi, kopi punya filosofi. Ia lalu menuturkan kisah tentang Ben dan Jodie. Ben yang gila kopi, barista terandal Jakarta yang selalu menarik arti, membuat analogi, sampai tercipta satu filosofi untuk setiap ramuan kopi. Bagaimana Ben bercerita tentang cappuccino sebagai kopi paling genit, yang membutuhkan standar penampilan tinggi dan tidak boleh kelihatan sembarangan. Lalu disambung dengan filosofi kopi tubruk yang lugu dan sederhana, tapi semakin memikat kalau mengenal lebih dalam; kopi yang tidak peduli penampilan, kasar dan dibuat sangat cepat, tetapi sangat dahsyat aromanya. Kisah Dewi disambung dengan ambisi Ben untuk menciptakan kopi terbaik di dunia, yang ternyata tidak lebih hebat dari kopi racikan sebuah warung di Jawa Tengah. Lalu Jodie? Ah, dia hanya pelengkap penggembira, seperti Larry untuk Balki, seperti Mulan untuk Maia.
Kata Rani, ada artikel norak tentang kopi di sebuah majalah tahun lalu. Isinya tentang budaya minum kopi orang Indonesia yang salah, terkait dengan maraknya kedai kopi waralaba asing di kota besar. Bahwa menurut tata cara yang benar, minum kopi seharusnya diseruput, bukan ditenggak dan tidak diberi gula banyak-banyak, terutama espresso. Saya membayangkan Rani meng-grundel, “Ajegile, minum kupi aje pake aturan. Aturan siape?”
Lalu Rani bernostalgia, tentang kopi, gula dan Wildan.
Rani selalu memprotes: ”Dasar orang Jawa. Kopi kok manis. Itu ‘mah air gula dikasih kopi." Wildan menjawab: "Dasar orang Sunda gak bisa menikmati hidup. Hidup itu udah pait, makanya harus dibikin manis."
Akhirnya Rani berkesimpulan, kalau di kedai waralaba asing, tata cara yang diterapkan tidak seasyik warung kopi tradisional, dimana kopi bisa diteguk glek-glek-glek dan gula boleh ditambahkan banyak-banyak.
Kata saya, kopi tak berguna. Saya cuma minum kopi kalau sedang ujian. SKS katanya. 'Sistem Kebut Semalam'. Teman-teman bilang, kopi bisa membuat terjaga. Jaminan itu juga tertera pada akar kata Arabnya: ‘qahwa’ alias ‘yang mencegah tidur’. Tapi kafein dalam larutan coklat itu tidak pernah membuat saya terjaga. Saya tetap tidur seperti kerbau, dan semakin dungu saat datang ke ruang ujian tanpa sedikit pun merekam isi 120 halaman buku pegangan sistem muskuloskeletal ke dalam otak saya. Kopi yang saya minum tidak meningkatkan produksi adrenalin untuk membuat saya terjaga, tapi malah merangsang dinding usus untuk mempercepat defekasi. Ya, kopi adalah obat pencahar bagi saya.
Setiap kali ujian, saya menoleh kepada cangkir kopi di ujung meja, sambil berdoa, semoga kali ini ia dapat membuat saya terjaga. Prinsip saya, lebih baik pakai pengaman walaupun bocor; lebih baik minum kopi walaupun nantinya molor. Namanya juga usaha.
Saya ingin ikut bergaya di kedai kopi waralaba. Mencoba membuktikan tesis Seno kalau kopi adalah ikon budaya baru, merasakan filosofi kopi seperti kisah fiksi yang dituturkan Dewi, sambil mempraktikkan tata cara yang benar seperti yang dijabarkan Rani. Tapi saya tidak bisa. Karena saya akan lebih banyak menghabiskan waktu di toilet berdinding kayu daripada bergosip dengan santai di sofa empuk di tengah kedai.
Sampai akhirnya saya punya kencan dengan teman lama. Eksekutif muda titelnya. Cocok dibawa ke depan orang tua, layaknya meja yang dipatut-patutkan dengan perabot rumah yang sudah ada, bisik Shakuntala. Teman-temannya bersaksi, dia penggila kopi. Sialan.
Dia mengajak kencan di kedai kopi bergambar putri duyung.
Dia tersenyum. Saya tersenyum.
Dia pergi memesan. Saya jaga image.
Dia datang membawa dua cangkir kopi besar dengan nama eksotik. Saya meringis. Kami bersama-sama meneguk.
Perut saya sakit.
Saya harus ke belakang!




mbak2..emangnya udah baca filosofi kopi -nya dee.....caritain dong. aku mau beli kalau udah dicritain...
http://lulukpr.blogspot.com
Posted by: Luluk | March 31, 2006 05:22 PM
Loh, bukannya orang lebih suka kalau isinya gak diceritain?
Bagus kok, bukunya.
Posted by: Stanum | April 1, 2006 09:55 AM
hei stan... hmm.. kopi ya. halaman tentang kopi gua belum selesai... masih diinkubasi. lieur keneh. eniwey gua liat kopi lu instan ya? wah ada seni yang beda lagih dengan kopi instan. coba deh kopi di aroma jl braga... itu baru kopi. kopi instan itu hanya aroma doang dengan kadar keasaman tinggi. jangan minum yang itu, selain efek cafeinnya kurang kena, ga baek buat usus karena terlalu asam, makanya bikin maag. coba kopi tubruk bukan yang shachetan... bangunnya lebih enak, aromanya sedap .. dan TANPA ATURAN! hahahaha...
Posted by: murni | April 2, 2006 04:38 AM
Hmmm.... pantes saya selalu molor....
Posted by: Stanum | April 2, 2006 10:22 AM
Saya suka semua jenis kopi, tapi harus pake gula, mungkin karena saya orang jawa, hehehe ;p
kopipakegula.blogspot.com
Posted by: Rima | April 3, 2006 04:23 AM
Sama, waktu jaman begadang mau SPMB duluu, kopi nggak mempan.
Yang mempan itu buka kamar jendela trus ngerokok.
Besok pagi ayah bunda terbangun dan takkan menemukan bukti... Lalala.
Posted by: Ikram | April 3, 2006 01:15 PM
Munce, Munce.... gue kemarin dapet kopi Aceh, Ulee Kareng yang dari kafetaria Jasa Ayah... tapi setelah gue minum, gue tetep aja tidur kena sepoi2 angin bajaj.... haaah... emang kopi gak manjur buat gue.... ntar gue coba deh kopi Aroma..
Posted by: Stanum | April 9, 2006 05:53 AM
Stan, gw mencintai kopi apa adanya...cinta kopi dengan semua kepahitannya, dengan kadang kelebihan gulanya..dengan balutan cangkir super mungil atau gelas bir...dengan titel lampung, jawa, kalossi, toraja, brazil, atau italia-nya..dengan turunan arabika, robusta, atau campuran keduanya..dengan derita insomnia atau sakit perut sesudah diseruput...
coba dimulai dengan secangkir arabika rumahan di pagi hari, cukup 3:2..
Posted by: Ayu | April 11, 2006 02:22 PM