« December 2005 | Main | February 2006 »

Malam Bainai Ivo

     Tanggal 15 Januari kemarin, teman SMA saya, Ivo Nizian (bekas III Fis 6) melangsungkan pernikahan di De La Rossa Café, Kemang. Ivo sendiri sudah tinggal dan bekerja di Muara Bungo, Jambi sejak lulus kuliah, sekitar lima tahun lalu. Dia khusus datang ke Jakarta untuk melangsungkan pernikahannya saja. Karena tidak bisa datang ke resepsi, saya menyempatkan diri datang ke acara Malam Bainai, Singgasana_malam_bainaiyang dilangsungkan satu hari sebelum akad nikah. Acaranya sendiri berlangsung semarak, penuh dengan penganan kecil, dominasi warna emas serta percakapan bahasa Minang (ya iyalah…)
    Awalnya saat saya datang ke acara ini, saya pikir bisa menanyakan hal-hal yang tidak saya mengerti kepada teman-teman Minang saya nantinya. Tapi ternyata mereka –yang kebanyakan lahir dan besar di Bandung, NyamnyamJakarta dan Padang (!)- juga tidak begitu mengerti tentang acara ini (samalah kayak saya yang gak gitu ngerti midodareni). Tetapi orang dari Sanggar Minang Elly Kasim berbaik hati menerangkan kembali arti perayaan ini.

(Iyolah, ambo indak namuah dikiro tengak dek uda-uda gagah tu…)

     Malam Bainai adalah tradisi kebudayaan Minang, Sumatera Barat untuk melepas keperawanan anak daro (mempelai perempuan). Acara ini biasanya dilakukan sehari sebelum akad nikah, karena keesokan harinya, anak daro akan melepas kegadisannya dan diperistri oleh marapulai (mempelai pria).
     Pada acara ini, marapulai tidak diperbolehkan dulu bertemu dengan anak daro. Ivo_dan_kedua_orang_tua Saat acara Ivo, marapulai Robi, datang bersama keluarganya. Kedua keluarga kemudian saling berbalas pesan dan menasihati, sambil menukar kado. Setelah selesai, maka marapulai dan keluarganya dipersilahkan untuk keluar dari ruangan, karena anak daro akan dijemput keluar dan akan diinai.
Lalu keluarlah Ivo dari kamarnya, sambil diapit oleh kedua orang tuanya, Husni Syam dan Yusrawati. Sesampainya di depan singgasana, Ivo duduk bersimpuh, sementara kedua orangtuanya Minta_restududuk di kursi singgasana itu. Ivo kemudian memohon restu, untuk melepas masa lajangnya dan memohon maaf kepada kedua orang tua (tentunya dalam bahasa Minang). Prosesinya seperti sungkeman dalam adat Jawa.
     Setelah itu, Ivo kemudian diapit lagi sambil dibawa ke tempat duduk yang Siap_dibersihkan_dan_diwangiwangi_1dinaungi oleh payung kuning. Keluarganya kemudian membentangkan kain songket di belakangnya. Menurut Ibu Opet dari Sanggar Elly Kasim, yang memegang payung adalah saudara laki-laki anak daro. Arti dari memayungi adalah dimanapun anak daro itu berada nantinya, maka saudaranya itu akan selalu menaungi dia, membantu dia saat kesusahan.
Di tempat duduk yang dinaungi payung dan diselempangkan kain ini, Ivo diberi Siapsiap_dibersihkan_1wewangian, diuapi dan dicukur bulu wajahnya (tapi gak bener-bener dicukur, hanya simbolis saja). Satu-persatu, sepupu Ivo dan tante-tantenya dipanggil untuk bergantian memberi parfum, menguapi serta mencukur wajah Ivo, sambil tak lupa memberi wejangan yang dibiskkan ke telinga Ivo. Arti dari pemberian wewangian ini adalah agar anak daro menjadi bersih bersinar, harum dan jauh dari godaan, untuk menyambut hari pernikahannya esok.
     Setelah diwangi-wangi dan dibersihkan, Ivo diarak lagi ke singgasana, untuk Kakak_laki_menggulung_selendangdiinai. Saat diarak ini, kakak lelakinya menggulung selendang kuning yang menjadi jalur penapakan Ivo dari kursi wewangian ke singgasana. Makna dari digulungnya selendang ini adalah agar sang kakak tidak akan menggulung lagi selendang tapak untuk yang kedua kalinya. Pernikahan yang dijalani anak daro diharapkan berlangsung untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Penggulungan selendang ini hanya dilakukan oleh saudara laki-laki anak daro -boleh kakak, ataupun adik. Kalau anak daro itu tunggal, maka saudara sepupu laki-lakinya boleh menggulung selendang tapak ini.
Inai_yang_akan_diberi_air     Setelah kembali ke singgasana, maka pemberian inai pun dimulai. Inai (Lawsonia inermis) atau pacar kuku adalah tumbuh an yang biasa dipakai untuk mewarnai kuku. Tumbuhan ini sudah diubah menjadi bubuk. Untuk mewarnai kuku, maka inai perlu diberi air terlebih dulu. Satu-persatu saudara dan kenalan dekat Ivo dipanggil untuk Diberi_inai menorehkan inai ke kukunya. Masing-masing jari memiliki maknanya sendiri-sendiri. Misalnya jika jari telunjuk yang diberi inai, maka diharapkan anak daro ini nantinya jika sudah menjadi istri jangan suka menunjuk-nunjuk, minta ini, minta itu. Kalau jari Tangan_yang_sudah_diberi_inaitengah yang diberi inai, maka diharapkan kelak nanti anak daro dapat berbuat adil dan seimbang terhadap orang tuanya dan calon mertuanya, juga kepada pasangannya.
     Pemberian inai ini adalah puncak dari Malam Bainai. Setelah selesai, maka para tamu dapat berpesta, menyambut pernikahan marapulai dan anak daro esoknya. Pada acara Ivo kemarin, para tamu dapat mencicipi soto Padang dan hiburan musik yang membawakan berbagai macam lagu, mulai dari Cha cha cha, sampai tak lupa, dendang Malam Bainai……

“Malam-malam baiko, yo mamak….
Malam-malam bainai, yo sayang
Anak daro yo mamak….
Jo marapulai……”

                            

Cerita seorang penari

Di sebuah negeri, ada seorang penari yang pandai menari. Bila ia menari, semua orang ikut gembira. Ada yang menyanyi, memainkan musik, memukuli apa saja, dan ikut menari. Jalanan jadi kacau, lalu lintas macet. Ia ditangkap dan dipenjara. Tetapi ketika ia menari di penjara, semua narapidana ikut menari. Penguasa marah, dan memotong tangannya. Ia menari dengan kakinya. Dipotong kakinya, ia menari dengan badan dan kepalanya. Dipotong lehernya, ia masih menari dengan matanya. Semakin banyak lagi orang yang ikut menari. Penguasa jadi kesal dan bertanya, "bagaimana caranya menghentikan tarian anda?"

Penari sejati itu menjawab, "untuk menari saya tidak memerlukan musik. Untuk menari saya tidak memerlukan kaki dan tangan. Untuk menari saya hanya memerlukan jiwa yang merdeka."

(Eka Budianta, Senyum untuk Calon Penulis, h:24-25)

Iiih ada gue :p

Booklet_kbr_68h_1Kantor Berita Radio (KBR) 68H alias tempat gue kerja sekarang bikin booklet promosi baru. Materi promosi seperti ini memang sedang diperbaharui, terutama karena KBR 68H akan punya 'saudara baru' namanya Radio Utan Kayu.

Di halaman pertama ada gambar OB van KBR 68H, Aldo di ruang operator dan Mbak Ayu Utami, penulis novel Saman dan Larung (hmmm... kalau mbak Ayu ditaruh di depan mungkin untuk menggambarkan bahwa radio gue tuh berbudaya dan intelektual kali ya :ppppp)

Me_on_kbr_68hTapi... pas gue buka halaman kedua... ternyata.... ada gueee!!*norak mode on*

Emang sih masih ada Aldo juga :pp tapi ada guenya :pp

Monique_on_kbr_68hTerus setelah membuka-buka halaman selanjutnya, ternyata ada Monique, tepat disampingnya Program Saintek (cece.. PJ baru nih?)

Widya_on_experd_adYang gue tahu dulu ceritanya Widya, senior di LFM/Penerbangan '96 yang kerja di sebuah maskapai penerbangan baru Indonesia tetapi tak lama kemudian wajahnya juga muncul di KOMPAS halaman belakang sebagai... model maskapai tsb! Setelah itu Widya malah muncul di iklannya EXPERD.

Intinya? Gak ada. Gue cuma pengen narsis aja :pp   

Beatles songs

I grew up with Beatles songs. My little brother and I used to sing it together while jumping up and down on the red Chitose chairs, dancing to the songs’ beat.
Since we couldn’t grasp the lines correctly, we made our own Beatles lyrics based on our comprehension. We changed the Obladi Oblada refrain from:
“Obladi oblada… Life goes on… bra… Lala How the life goes on…”
to: “Obladi oblada…Lakosombra…lalalala lakosom….”
And we also changed the chorus tip's of The Ballads of John and Yoko from
”They’re going crucify me…”
to: “singkong rebus digarami" (boiled cassava poured with salt)

BeatlesBesides listening to it’s records, I also watched the Beatles movies which I borrowed from Bim-Bim video rental at Tebet Timur, along with Japanese anime and Chinese Kung Fu videos. My little brother liked John Lennon and Paul McCartney whom are considered as the group leaders. I liked Paul (because he’s handsome and cute) and Ringo Starr (because of his parrot-like nose). To me, John Lennon face quite sharpy.    

On the 5th grade, my school invited Abadi Soesman's Barata band to be the guest star of our school anniversary celebration. The band was the Beatles imitator at that time. When they performed, I automatically jumped up the chair and sang together with the band, while other kids can only memorize Sheren Regina Dau’s songs (or so I thought….:p)

I don’t have particular favorite Beatles songs. I think I like most of their songs. But I don’t really like Penny Lane and Strawberry Fields Forever because I think the songs quite sentimental.

Love_actuallyLove Actually” movie depicts “All You Need Is Love” song well, when Juliet (played by Keyra Knigthley) and Peter (Chiwetel Ejiofor) get married. During the wedding tranquility, the choir suddenly sings “All You Need is Love” and lighten up the room. I see the song is portrayed as glorification of love.

My radio used to have a special program named “Dunia Beatles” (The World of Beatles) which was hosted by a potential-future-icon, Hilman Handoni :p The program talked about the group’s career saga, stories behind the songs and other stuff related to the Beatles. It was broadcast with the cooperation of Indo Beatlemania Club, Indonesian Beatles enthusiasts. But when I listened to one of it’s show, I didn’t recognize most of the songs being played! Well…. I guess my Beatles collection was not much after all… :p 

I remember the Beatles again after I saw Imel ‘Strawberry’, a talented singer and pianist on TVRI’s “Country Road” show couple of days ago. She sang one of the Beatles songs beautifully (as she always does) titled “I Will”. And I know that I keep falling in love to Beatles songs because of it’s simplicity and it’s memorable melody which give you something to smile upon your day.

Who knows how long I've loved you
You know I love you still
Will I wait a lonely lifetime
If you want me to--I will.

For if I ever saw you
I didn't catch your name
But it never really mattered
I will always feel the same.

Love you forever and forever
Love you with all my heart
Love you when ever we're together
Love you when we're apart.

And when at last I find you
Your song will fill the air
Sing it loud so I can hear you
Make it easy to be near you
For the things you do endear you to me
You know I will
I will.

(I Will, the Beatles) 

Memories

When enough time has passed, events blur, facts fade, and memories overtake reality. What we remember most vividly becomes for each of us our version of truth. We recall not the details of an experience, but its essence –some image or moment or scrap of conversation that we think discloses meaning, capture how it was. These recollections get enshrined indelibly as anecdote and case history, dramatized in the retelling as if our past lives were slides shows, either tragic or comic depending on the particular episode recalled and our current point of view.

Memories filter out subtlety, shading, complexity.

They distort and oversimplify. But they also convey a special accuracy.

It is just because we discriminate in our remembrances between the incidental and the essential that we choose to recall illuminates our most profound experiences and our truest feelings.

BungaThrough our imperfections recollections, we reveal to ourselves and to others what the past means in our lives and how it shaped our present circumstances.

Even more, in our differing memories of the same event, we grasp how much and how little we have in common with other people and other cultures.

Lovers recognize this eventually.

Countries rarely do.

(The Liberal Minds in a Conservative Age, p:23)

High school crush

    I already wrote this in Indonesian, but then I decided to change it to English. Why? Because I think I kinda feel embarrassed to talk about high school crush in Indonesian language :”) (Yea yea.. then you’d rather write this in English, where most of people in the world can understand that? Not to mention the guy himself who’s fluent in English and also reads your blog? :p) Well… I guess using English makes the story not as obvious as the Indonesian one …. :p
Anyway…
    Couple of months back, I had quite intense contacts through the net with he-who-must-not-be-named :p ‘He’ is my high school crush. A cute guy with perfect smile, flawless teeth and excellent brain. Seeing his writings and pics on the net took me back to teenage years more than a decade ago (I graduated high school in 1996). I don’t really fond him much, actually. I met a lot of cuter guys in high school and I don’t think he’s outstanding enough. But one thing that makes him so memorable to me because I used to admire him secretly with my junior high school friend. Let’s call her Adeta. 
    Adeta and I took the same bus when we went home from schools. That made us closer and became friends. In junior years, I used to spend a lot of time in Adeta’s house, reading Aneka Yes! magazines (my family only had HAI Magazine, magazine for boys), gossiping each other classmates, joined Quran lesson together (I wasn’t good at this) and studying for national exams (we both took additional academic course at Santo Lukas). In senior years, I rarely met Adeta again because we had different class and I think the academic requirements in our school made it hard to see each other as often as we used to. But sometimes I met Adeta when we were waiting for S-60 bus after school. On these ‘precious’ rare meetings, we kept on gossiping each other classmates :p Adeta told me about this cute guy in her class who’s kind to her and treated everybody with the same respect. I agree with her. He’s adorable and also nice to me. I can’t remember how I became his acquaintance, but he surely was polite. I think I gave him a birthday card on the second year of high school. But as I wrote earlier, I met a lot of cuter boys and forgot him easily.
    What do you know… technology improves and (hate to say this –it sounds like a freakin’ commercial ad) I met the guy again on friendster two years ago, exactly ten years after Adeta told about him in a first place. He doesn’t remember Adeta anymore (although he admits that he still remember me in high school years). Well I guess both of us can be easily forgotten in high school. I used to wear thick minus-10 glasses and permanent braces. Adeta had a lot of pimples and her body was heavier than the average high school girls in my time.                                 
    But this thing reminds me of one Indonesian chicklit story titled ‘Cintapuccino’. The story is about a lady in her mid twenties who is still obsessed with her high school crush, Nimo. They finally meet again after Nimo came into her life out of nowhere. The story closed with a happy ending when they get married and ‘live happily ever after’ (I’m a spoiling book reviewer, don't complain). 
     Do I want my story to have a closing like that? Naaahhh…..
Well first of all, I’m not as obsessed with the guy as the chicklit lady with Nimo. Secondly, one thing that crosses my mind is not exactly the guy himself, but Adeta. I don’t know where she is right now. I called her phone number and visited her house but she doesn’t live there anymore. I google her name but I just can’t find the right Adeta. I ask my high school friends but nobody seems to know where she is.
     I just want to meet her and if I do, I will share the story about the cute guy we used to adore secretly in high school.

Covering Islam

Covering_islamCovering Islam oleh Edward Said
ISBN: 0679758909
 
“Covering Islam” adalah buku ketiga Edward Said yang mencoba menjembatani antara ‘Orient’ (Islam, Arab, Timur)  di satu pihak dengan ‘Occident’ (Barat, Prancis, Inggris dan terutama Amerika) di pihak lain. Buku pertama Said adalah “Orientalism” yang berusaha untuk melihat kembali hubungan antara invasi zaman Napoleon ke Mesir, mulai dari zaman kolonialisme, bangkitnya studi Orientalisme di Eropa pada abad 19, sampai ke penjajahan Inggris dan Prancis di wilayah Timur setelah Perang Dunia II. Tema pokok dari “Orientalism” adalah hubungan antara pengetahuan (knowledge) dengan kekuatan (power). Buku kedua Said adalah “The Question of Palestine”, yang mencoba melihat studi kasus pertarungan antara Arab, penduduk Muslim di Palestina serta gerakan zionisme (yang kemudian menjadi Israel). Disini, Said mencoba melihat di balik pandangan Barat tentang konsep orientalisme dalam konteks perjuangan negara Palestina sebagai perwujudan identitas.
       “Covering Islam” lebih melihat kepada hubungan Barat (terutama Amerika) dan reponsnya terhadap dunia Islam yang dipersepsikan. Isu yang cukup kuat antara lain adalah minyak Arab dan Persia, OPEC, serta kebutuhan masyarakat Barat terhadap sumber daya tersebut. Revolusi Iran juga dibahas dalam buku ini.
       Said menjelaskan bahwa ‘Islam’ adalah satu artian yang sederhana. Tetapi pada kenyataannya, Islam direpresentasikan sebagian bagian dari fiksi, sebagian ideologi dan sebagian lain dilihat sebagai tujuan keagamaan. Islam sendiri memiliki pengertian berbeda yang mencakup 800 juta penganutnya, dengan jutaan mil wilayah Asia dan Afrika yang memiliki beragam sejarah, negara serta budaya masing-masing.
       Media Barat mencoba untuk menyederhanakan upaya untuk merepresentasikan Islam. Salah satu contohnya adalah pada kasus ditawannya warga Amerika di Iran pada tahun 1981. Para jurnalis dan reporter yang tidak memiliki kemampuan bahasa Persia dan pengetahuan yang mendalam tentang negara serta budaya Iran melaporkan peristiwa tersebut dengan bias. Mereka mengambil pendapat umum/klise yang kemungkinan besar tidak akan ditentang oleh pemirsa di negaranya.
       Sementara itu, dalam tataran akademis, masih terdapat pertanyaan sendiri: apakah yang dimaksud sebagai ‘perilaku Islam’? Apa yang menghubungkan Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan Islam dalam konteks doktrin? Bagaimana konsep ‘Islam’ di Maroko, Saudi Arabia, Siria atau Indonesia? Doktrin Islam dapat dipandang sebagai kapitalis dan juga sosialis, militansi sekaligus fatalistik, ekumenisme dan juga eksklusif. Pada akhirnya kita melihat perbedaan deskripsi Islam secara akademis dengan Islam pada kenyataannya. Terdapat konsensus bahwa Islam dapat dijadikan “kambing hitam”, baik dalam hal politik, sosial dan ekonomi. Untuk golongan kanan, Islam mewakili barbarisme, untuk golongan kiri, Islam adalah bentuk teokrasi abad pertengahan, sementara untuk golongan tengah, Islam adalah eksotisme murahan. Bagaimanapun, semua yang jelek tentang Islam tidak semata kesalahan Barat. Kita juga harus melihat apa yang telah dilakukan oleh kalangan Islam sendiri.
       Sebuah buku karya Khomeini, “Pemerintahan Islami” disebut sebagai imitasi dari Adolf Hitler dalam kata pengantarnya oleh George capozi Jr, reporter senior the New York Post. Dikatakan bahwa Khomeini merupakan seorang tiran, pembenci dan ancaman bagi perdamaian dunia, Jika Hitler memiliki Mein Kampf, maka Khomeini memiliki Pemerintahan Islami.      
       Pemberitaan demikian, menurut Said disebabkan oleh adanya rasa etnosentrisitas, mis-informasi, penghindaran detil serta tidak adanya pandangan yang jernih. Hal ini bisa dilihat bukan kepada Islam, tetapi kepada masyarakat Barat serta media dimana konsep ‘Islam’ direpresentasikan. Sehingga yang kita hadapi disini adalah sebuah komunitas interpretasi. Tidak ada orang yang bersentuhan langsung dengan realitasnya. Seperti yang dijelaskan oleh C. Wright Mills:
"The first rule of understanding human condition is that men live in the second hand worlds. They are aware of much more than they have personally experienced, and their experience is always indirect. The quality of their life is determined by meanings they have received from others."
(Aturan pertama untuk memahami manusia adalah mereka hidup di dunia kelas dua. Mereka sadar akan banyak hal yang belum pernah dialami secara langsung oleh mereka. Pengalaman mereka selalu tidak langsung. Kualitas hidup mereka ditentukan oleh pemahaman orang lain).

(Ari, Adys, Stania)

Bajaj

Bajaj Bajaj adalah kendaraan yang selalu setia mengantar saya kuliah tiap sore. Dari Utan Kayu ke Salemba, kendaraan umum yang paling cepat dan (lumayan) nyaman adalah bajaj. Yalah… taksi kemahalan, bis terlalu lama dan ojek tidak nyaman kalau membawa tas tukang pos yang segede gambreng. Sejak dihapusnya becak di Jakarta, bajaj menjadi kendaraan umum alternatif (disamping ojek) untuk kompleks perumahan yang tidak dilalui oleh kendaraan umum lainnya.
Kendaraan ini pertama kali dibuat oleh perusahaan Bajaj Auto di India tahun 1962. Kendaraan sejenis juga dapat kita temukan di Thailand (dengan Tuktuknya) dan Peru (dengan MotoTaxinya). Saya pernah melihat bajaj di India dalam Discovery Channel Travel & Living. Warnanya hijau, tidak memiliki daun pintu untuk penumpang dan lebih besar dari bajaj yang biasa saya pakai. Bajaj Jakarta berwarna oranye, memiliki daun pintu untuk penumpanganya dan hanya mampu mengangkut 2 orang dewasa (tiga orang kalau maksa).
Bajaj jadi semakin terkenal dengan melejitnya serial "Bajaj Bajuri" di TransTV. Saya sendiri melihat, Trans sepertinya ingin merepresentasikan bajaj dalam persepsi yang lebih positif di masyarakat melalui program2 tayangannya. Selain "Bajaj Bajuri" (dan "Salon Oneng", yang diilhami dari serial yang sama), bajaj juga ditampilkan dalam sinetron “si Bajaj” dan program reality show “Bule Gila” (masih ingat tropi yang diberikan kepada bule paling gila? Ya, bajaj!).
Pemerintah Daerah Jakarta ingin mengganti bajaj dengan Kancil alias Kendaraan Angkutan Niaga Cilik Irit dan Lincah yang merupakan hasil karya anak negeri.  Berbeda dengan bajaj yang ‘hanya’ berkapasitas 165 cc, Kancil memiliki mesin kapasitas 400 cc dengan komponen lokalnya mencapai 85 persen. Tapi hal ini Bajaj_demo ditentang oleh para pengemudi bajaj. Tahun 2004, ratusan bajaj dikerahkan ke depan gedung balaikota Jakarta dalam unjukrasa menentang penggantian bajaj dengan kancil. Hal ini yang kemudian menimbulkan rivalitas antara pengemudi bajaj dengan Kancil. Setiap kali Kancil lewat di depan bajaj yang saya tumpangi, maka abang bajaj akan menekan gas dan mencoba mendahului kancil. Upaya yang cukup menambah derita bagi para penumpang bajaj:(   

Meskipun bajaj digunakan secara luas oleh masyarakat Jakarta, dibutuhkan nyali yang cukup kuat untuk naik bajaj, terutama yang baru naik pertama kali. Mengapa?
Karena bajaj:
1. Suka ngebut tanpa peduli mobil lain juga sedang melaju dengan kencang 
2. Berisik!! … Bajaj merupakan  salah satu sumber polusi suara di perkotaan
3. Suka nyelip-nyelip di tengah kemacetan dan mengambil jalur lawan (tolong!)
4. Kalau belok dan memutar, hanya Tuhan dan abang bajaj yang tahu….
Bajaj_2 Tapi yang saya masih gak ngerti, kenapa abang bajaj suka menaikkan kakinya ke atas dashboard saat mereka sedang menyetir? Ohhh… bajaj, bajaj……