Malam Bainai Ivo
Tanggal 15 Januari kemarin, teman SMA saya, Ivo Nizian (bekas III Fis 6) melangsungkan pernikahan di De La Rossa Café, Kemang. Ivo sendiri sudah tinggal dan bekerja di Muara Bungo, Jambi sejak lulus kuliah, sekitar lima tahun lalu. Dia khusus datang ke Jakarta untuk melangsungkan pernikahannya saja. Karena tidak bisa datang ke resepsi, saya menyempatkan diri datang ke acara Malam Bainai, yang dilangsungkan satu hari sebelum akad nikah. Acaranya sendiri berlangsung semarak, penuh dengan penganan kecil, dominasi warna emas serta percakapan bahasa Minang (ya iyalah…)
Awalnya saat saya datang ke acara ini, saya pikir bisa menanyakan hal-hal yang tidak saya mengerti kepada teman-teman Minang saya nantinya. Tapi ternyata mereka –yang kebanyakan lahir dan besar di Bandung, Jakarta dan Padang (!)- juga tidak begitu mengerti tentang acara ini (samalah kayak saya yang gak gitu ngerti midodareni). Tetapi orang dari Sanggar Minang Elly Kasim berbaik hati menerangkan kembali arti perayaan ini.
(Iyolah, ambo indak namuah dikiro tengak dek uda-uda gagah tu…)
Malam Bainai adalah tradisi kebudayaan Minang, Sumatera Barat untuk melepas keperawanan anak daro (mempelai perempuan). Acara ini biasanya dilakukan sehari sebelum akad nikah, karena keesokan harinya, anak daro akan melepas kegadisannya dan diperistri oleh marapulai (mempelai pria).
Pada acara ini, marapulai tidak diperbolehkan dulu bertemu dengan anak daro.
Saat acara Ivo, marapulai Robi, datang bersama keluarganya. Kedua keluarga kemudian saling berbalas pesan dan menasihati, sambil menukar kado. Setelah selesai, maka marapulai dan keluarganya dipersilahkan untuk keluar dari ruangan, karena anak daro akan dijemput keluar dan akan diinai.
Lalu keluarlah Ivo dari kamarnya, sambil diapit oleh kedua orang tuanya, Husni Syam dan Yusrawati. Sesampainya di depan singgasana, Ivo duduk bersimpuh, sementara kedua orangtuanya duduk di kursi singgasana itu. Ivo kemudian memohon restu, untuk melepas masa lajangnya dan memohon maaf kepada kedua orang tua (tentunya dalam bahasa Minang). Prosesinya seperti sungkeman dalam adat Jawa.
Setelah itu, Ivo kemudian diapit lagi sambil dibawa ke tempat duduk yang dinaungi oleh payung kuning. Keluarganya kemudian membentangkan kain songket di belakangnya. Menurut Ibu Opet dari Sanggar Elly Kasim, yang memegang payung adalah saudara laki-laki anak daro. Arti dari memayungi adalah dimanapun anak daro itu berada nantinya, maka saudaranya itu akan selalu menaungi dia, membantu dia saat kesusahan.
Di tempat duduk yang dinaungi payung dan diselempangkan kain ini, Ivo diberi
wewangian, diuapi dan dicukur bulu wajahnya (tapi gak bener-bener dicukur, hanya simbolis saja). Satu-persatu, sepupu Ivo dan tante-tantenya dipanggil untuk bergantian memberi parfum, menguapi serta mencukur wajah Ivo, sambil tak lupa memberi wejangan yang dibiskkan ke telinga Ivo. Arti dari pemberian wewangian ini adalah agar anak daro menjadi bersih bersinar, harum dan jauh dari godaan, untuk menyambut hari pernikahannya esok.
Setelah diwangi-wangi dan dibersihkan, Ivo diarak lagi ke singgasana, untuk
diinai. Saat diarak ini, kakak lelakinya menggulung selendang kuning yang menjadi jalur penapakan Ivo dari kursi wewangian ke singgasana. Makna dari digulungnya selendang ini adalah agar sang kakak tidak akan menggulung lagi selendang tapak untuk yang kedua kalinya. Pernikahan yang dijalani anak daro diharapkan berlangsung untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Penggulungan selendang ini hanya dilakukan oleh saudara laki-laki anak daro -boleh kakak, ataupun adik. Kalau anak daro itu tunggal, maka saudara sepupu laki-lakinya boleh menggulung selendang tapak ini.
Setelah kembali ke singgasana, maka pemberian inai pun dimulai. Inai (Lawsonia inermis) atau pacar kuku adalah tumbuh an yang biasa dipakai untuk mewarnai kuku. Tumbuhan ini sudah diubah menjadi bubuk. Untuk mewarnai kuku, maka inai perlu diberi air terlebih dulu. Satu-persatu saudara dan kenalan dekat Ivo dipanggil untuk
menorehkan inai ke kukunya. Masing-masing jari memiliki maknanya sendiri-sendiri. Misalnya jika jari telunjuk yang diberi inai, maka diharapkan anak daro ini nantinya jika sudah menjadi istri jangan suka menunjuk-nunjuk, minta ini, minta itu. Kalau jari tengah yang diberi inai, maka diharapkan kelak nanti anak daro dapat berbuat adil dan seimbang terhadap orang tuanya dan calon mertuanya, juga kepada pasangannya.
Pemberian inai ini adalah puncak dari Malam Bainai. Setelah selesai, maka para tamu dapat berpesta, menyambut pernikahan marapulai dan anak daro esoknya. Pada acara Ivo kemarin, para tamu dapat mencicipi soto Padang dan hiburan musik yang membawakan berbagai macam lagu, mulai dari Cha cha cha, sampai tak lupa, dendang Malam Bainai……
“Malam-malam baiko, yo mamak….
Malam-malam bainai, yo sayang
Anak daro yo mamak….
Jo marapulai……”












