Bajaj
Bajaj adalah kendaraan yang selalu setia mengantar saya kuliah tiap sore. Dari Utan Kayu ke Salemba, kendaraan umum yang paling cepat dan (lumayan) nyaman adalah bajaj. Yalah… taksi kemahalan, bis terlalu lama dan ojek tidak nyaman kalau membawa tas tukang pos yang segede gambreng. Sejak dihapusnya becak di Jakarta, bajaj menjadi kendaraan umum alternatif (disamping ojek) untuk kompleks perumahan yang tidak dilalui oleh kendaraan umum lainnya.
Kendaraan ini pertama kali dibuat oleh perusahaan Bajaj Auto di India tahun 1962. Kendaraan sejenis juga dapat kita temukan di Thailand (dengan Tuktuknya) dan Peru (dengan MotoTaxinya). Saya pernah melihat bajaj di India dalam Discovery Channel Travel & Living. Warnanya hijau, tidak memiliki daun pintu untuk penumpang dan lebih besar dari bajaj yang biasa saya pakai. Bajaj Jakarta berwarna oranye, memiliki daun pintu untuk penumpanganya dan hanya mampu mengangkut 2 orang dewasa (tiga orang kalau maksa).
Bajaj jadi semakin terkenal dengan melejitnya serial "Bajaj Bajuri" di TransTV. Saya sendiri melihat, Trans sepertinya ingin merepresentasikan bajaj dalam persepsi yang lebih positif di masyarakat melalui program2 tayangannya. Selain "Bajaj Bajuri" (dan "Salon Oneng", yang diilhami dari serial yang sama), bajaj juga ditampilkan dalam sinetron “si Bajaj” dan program reality show “Bule Gila” (masih ingat tropi yang diberikan kepada bule paling gila? Ya, bajaj!).
Pemerintah Daerah Jakarta ingin mengganti bajaj dengan Kancil alias Kendaraan Angkutan Niaga Cilik Irit dan Lincah yang merupakan hasil karya anak negeri. Berbeda dengan bajaj yang ‘hanya’ berkapasitas 165 cc, Kancil memiliki mesin kapasitas 400 cc dengan komponen lokalnya mencapai 85 persen. Tapi hal ini
ditentang oleh para pengemudi bajaj. Tahun 2004, ratusan bajaj dikerahkan ke depan gedung balaikota Jakarta dalam unjukrasa menentang penggantian bajaj dengan kancil. Hal ini yang kemudian menimbulkan rivalitas antara pengemudi bajaj dengan Kancil. Setiap kali Kancil lewat di depan bajaj yang saya tumpangi, maka abang bajaj akan menekan gas dan mencoba mendahului kancil. Upaya yang cukup menambah derita bagi para penumpang bajaj:(
Meskipun bajaj digunakan secara luas oleh masyarakat Jakarta, dibutuhkan nyali yang cukup kuat untuk naik bajaj, terutama yang baru naik pertama kali. Mengapa?
Karena bajaj:
1. Suka ngebut tanpa peduli mobil lain juga sedang melaju dengan kencang
2. Berisik!! … Bajaj merupakan salah satu sumber polusi suara di perkotaan
3. Suka nyelip-nyelip di tengah kemacetan dan mengambil jalur lawan (tolong!)
4. Kalau belok dan memutar, hanya Tuhan dan abang bajaj yang tahu….
Tapi yang saya masih gak ngerti, kenapa abang bajaj suka menaikkan kakinya ke atas dashboard saat mereka sedang menyetir? Ohhh… bajaj, bajaj……




huhuhu.. ternyata di india bacanya tuh ba-jajh... bukan bajay
Posted by: Rani-Raut-Two | January 2, 2006 01:54 AM
hueuehue.. gw kapok naek bajaj.
Semua keliatan bergerak kalau abis turun dari bajaj :D.
Btw, kok link ke blog gw diapus? :(, padahal cuma lagi libur doang kok :D
Posted by: Chafid | January 5, 2006 03:02 PM
hehehe...
Raut: wah bagus dong, pengucapannya sesuai dengan kaidah bahasa yang benar, gak kayak dilema Yogyakarta dan Jogjakarta, gender dan jender (ini masalah KOMPAS minggu lalu) atau Tabing dan Tabiang (ini khusus orang Padang)...
Chafid: Mana? Linknya masih ada kok *menyangkal lalu merekayasa*
Oh... kamu hiatus toh... kirain udah jadi blog spammer...:p
Posted by: Stanum | January 6, 2006 03:53 PM