« October 2005 | Main | December 2005 »

Another Stania in Korea

I like my name. In Indonesia, common names for girl are Kania, Vania, Tania, Rania, or just Nia. But not Stania. Well of course, there is Nira Stania, a presenter for Insert, a gossip show on TV and spoke person for local soy sauce product. I also spotted Stania on Sezsy's friendlist, her schoolmate in SMA 3 Bandung. But then again, ‘Stania’ is still not an ordinary name here. As part of narcism activity to my name , I often google it (hey, it is a common narcism –Citra also does that :p).
Couple of days ago, I found new entry with my full name on the net.
Waaw…. Am I being popular or what? (Mind you, I am a true narcist).   
I look at the entry again. Hey, I knew the site address. It is Studio Azure Tree. Weeks before, I received wrong e-mails which were meant to be sent to Stania Hwang. He happened to have a similar e-mail address with me on gmail (I still wonder whether ‘stania’ is a common name for male in Korea. I think his real name is Won-kune Hwang). Then, I click on the entry site address. But ooooww… it’s all written in Korean (except my e-mail which he pasted from the real format). I attach his writing below (if you see square boxes or question marks below, it means that your computer doesn’t support CJK/Chinese-Japanese-Korean script):

친구할까요? 

gmail 계정은 s_t_a_n_i_a_._h_w_a_n_g_at_gmail.com 입니다.
그런데 가끔 편의상,  자신에게 메일을 보낼 일이 생기는데요,
 중에서도 가끔, 받는 사람에 이렇게 주소를 적게 됩니다.
_s_t_a_n_i_a_at_gmail.com


OTL

이런 일이 두어번 있었습니다.
오늘 아침에도  삽질을 했죠 orz.
지난 번에, 잘못 보냈다는 사실을 모르고 있다가,  메일의 주인장께서 직접
'
잘못 보내셨습니다 ;)' 라고 친절하게 알려주셔서 감동했는데 (별거 아니지만 여튼; )
오늘 아침에 본의아니게  다시 메일을 보내게 되었습니다.
실수를 당장 알아채고 '메일을 잘못 보내서 죄송합니다.' 라고 짧게 메일을 보냈죠.
(
주저리주저리 핑계를 달고 싶었지만 영어가 딸리니 짧게)

그런데, 친절한  분께서  메일을 보내주셨습니다. :)

어찌  하면 친구가 될지도 모르겠네요 ;)
Indonenglish
이라고 표현했지만, 이리저리 영어공부도 될지 모르고 ;)

살짝 기대를 ~_~ 해봅니다.

Date: Tue, 1 Nov 2005 09:31:05+0700
From: Stania Puspawardhani
To: Hwang Won-kune

Subject: Re: Sorry. I mistook again TT

Hi Hwang Won-kune.
That's OK. Seems that we share the same name :)

Actually, I log on to your site, the Studio Azure Tree (http://stania.pe.kr)
Let me guess, you are a softwarre engineer who love music and
photography -am I right? :p

I also have a blog, it is on: http://stania.blogs.friendster.com (but
mostly it is written in Indonesian, and some part of Indonenglish :p)

I work as a radio journalist. You can take a look at my radio site (we
have several reports from South and North Korea too. This week, our
Chinesse stringers went to Pyongyang to watch Arirang Mass Games):

http://www.radio68h.com/asiacalling

Have a nice day.
-stania-

Now I’m worried.
I am afraid that I didn’t act appropriately regarding to Korean culture. In Indonesia, if you introduce yourself to new people, you might get two kinds of response: you will be recognized as a friendly person (which is positive), or as a person that pretends to be friendly (which is negative). The later has its own Indonesian term, which is “SOK KENAL SOK DEKAT” alias SKSD (I think Indonesian paranoids created this term in the first place). Luckily, I have a Korean friend who kindly translates the writing above.  This is what she writes:

From: Hyun-Sung Khan
To: Stania Puspawardhani
Subject: RE: Another Stania in Korea

Hi Stania
Let me put your mind at ease, the blog written by your namesake is perfectly
sweet.

He explains first of all how you and he have similar email addresses and
then he explains how a couple of times he sent emails to you pointing out
emails mistakenly sent to him.  And then he writes that you kindly
responded.

After he explains all this, he ends by saying "Who knows? we might even end
up becoming friends."
He notes that you seem to be "indoenglish" and jokes that this might give
him a chance to work on his english! (He puts a smiley expression after
this).

Also I think you have got it exactly right when you say he is probably "a
software engineer who loves music and photography" because after his blog,
additional bloggers (probably his friends) write in response to your
comment:  "wow cool!" (that's the nearest translation I can get!) and
another blogger writes "she's got your exactly nailed".  Then the blogs get
a bit childish and the last one calls him a "big shot"!!.

Well I hope that is a detailed enough explanation!  Don't worry, you haven't
committed any kind of error.  This man is just describing what has happened
in a perfectly nice way.

Best,
Hyun-Sung

What a relief :) The blog is written in a positive note.
Now, excuse me, I want to continue my narcism activity again :p

                            

Louise pergi

Lou1Editor saya pergi. Jumat kemarin adalah hari terakhirnya di radio. Awak redaksi yang tadinya susah dikumpulkan untuk berfoto bareng, jadi tergesa mencari posisi yang bagus setelah tahu foto itu akan dijadikan hadiah perpisahan untuk Louise.
Tadinya saya pikir tidak ada masalah besar. Louise memang sudah jarang masuk kantor beberapa minggu terakhir, jadi saya sudah terbiasa tanpa kehadiran dia. Mungkin, saya memang kurang bisa mengapresiasi perpisahan :p
Tapi setelah saya bangun kemarin pagi, saya sadar bahwa mulai minggu depan, tidak ada lagi yang bisa mengoreksi tulisan-tulisan dan e-mail Asia Calling (AC). Atau membantu mengikuti berita-berita Asia, menghubungi koresponden, memeriksa bayaran para koresponden di bagian keuangan dan beberapa hal yang sudah menjadi tugas rutinnya.
Louise biasanya akan memeriksa daftar program yang sudah disiarkan begitu dia masuk hari Selasa. Dia kadang terkesan paranoid (mungkin dia lebih suka menyebutnya ‘perfeksionis’). Dialah yang membuat beberapa sistem untuk AC seperti cadangan arsip untuk audio dan teks, penyimpanan cakram padat (CD) untuk setiap program yang telah diputar, klasifikasi arsip program yang lebih mudah, dan banyak lagi. Dia memang teratur dan rapi.
Berbeda dengan saya. Gaya bekerja saya tidak berurutan. Kadang, saya juga suka menunda-nunda tugas. Bahkan minggu ini, saya baru membuat program AC saat tenggat waktu hari Jumat. Waduh!
Louise juga suka cuti lama dan bekerja dari rumah. Di satu pihak, saya bisa lebih santai bekerja. Tapi kalau disuruh memilih, saya lebih suka kalau dia ada di kantor. Kalau dia datang, saya jadi jarang membuka situs yang tidak berhubungan dengan pekerjaan (seperti friendster dan blog :D). Sebaliknya, saya jadi lebih sering mengarsip laman dari situs berita, menghubungi pengelola situs lain untuk kerjasama link, atau mencari kontak radio kampus supaya mau menyiarkan program AC di stasiun mereka.
Kadang, ada juga sedikit masalah dengan bagian Teknologi Informasi (TI) 68H. Saya dan Louise senang sekali dengan terbentuknya situs AC dan kami punya banyak rencana untuk pengembangan situs itu. Tapi sayangnya, infrastruktur TI 68H tidak begitu mendukung. Fasilitas audio streaming yang sudah berjalan, dihilangkan sejak dua bulan yang lalu. Katanya, penyimpanan file audio membebani kinerja server 68H secara keseluruhan. Akhirnya, jalan terbaik adalah menampilkan file teks saja di situs AC. Mungkin suatu saat, setelah ada dana yang masuk, situs AC akan dapat menampilkan fasilitas audio streaming lagi.   
Setelah Louise pergi, awak redaksi 68H akan kehilangan tampang segar yang bisa untuk cuci mata saat suntuk di kantor. Hes mungkin juga tidak akan menitipkan salam yang sama kepada saya untuk Louise, “Bilangin yah, tampangnya mirip Andrea The Corrs,” Atau Hanny yang tidak bisa lagi ngerjain anak-anak bahwa mereka mendapat salam dari Louise-ma alias Lisma, perempuan Batak yang menjadi kepala HRD 68H.      Becca
Pengganti Louise adalah Rebecca yang akan datang minggu depan. Kalau kemarin  saya terbiasa mendengar aksen Inggris, setahun ke depan saya akan mulai membiasakan diri mendengar aksen Australia (Hope she’s not comin’ here to die!). Dan saya baru tahu kalau editor saya muda-muda. Saya tidak berani menanyakan umur Louise saat pertama kali bekerja (karena dari Englishtown, saya belajar bahwa topik umur dan agama merupakan hal yang harus dihindari saat berkenalan dengan orang baru). Sampai akhirnya saya baru menanyakan umurnya saat perpisahan Jumat kemarin. Louise baru berumur 26 tahun. Sementara Becca, lebih muda satu tahun lagi. Uniknya, saya dan Becca memiliki tanggal lahir yang sama: 30 April (kita sama-sama perempuan Taurus). Saya harap, ini berarti kita berdua tidak akan memiliki banyak perbedaan pendapat dan sebaliknya, malah semakin kompak dalam bekerja. Amin.

Indonenglish

Mata Shirley Escalante berbinar-binar saat mengikuti penjelasan dari direktur sebuah stasiun radio di Jakarta. Koresponden radio dari Filipina ini kemudian meminta maaf kepada penerjemah program, kalau hasil wawancara yang dia kirim kadang membingungkan. Orang yang ia wawancarai sering memulai pernyataannya dengan bahasa Inggris, tetapi kemudian dilanjutkan dengan bahasa Tagalog, lalu diselingi dengan beberapa kosa kata bahasa Inggris. Ia kemudian memberitahu bahwa itu adalah Taglish atau Tagalog-English, bahasa campuran Inggris dan Tagalog yang semakin hari semakin sering digunakan warga Manila.
Bahasa campuran Inggris dengan bahasa dan dialek lokal Asia Tenggara yang paling terkenal mungkin adalah Singlish, atau Singaporean-English. Tetapi sekarang mulai diikuti oleh Taglish, Manglish (Malaysian-English) dan Indonenglish (Indonesian-English). Ada juga yang memberikan nama berbeda, seperti Englog untuk English-Tagalog atau Engdonesian untuk English-Indonesian (seperti yang dipakai oleh Ariel Heryanto di harian KOMPAS).
Melebar ke negara lainnya, campuran Inggris dengan bahasa lokal semakin meluas. Di Jepang kita dapat menemukan Japlish atau bahasa Inggris dengan struktur bahasa Jepang, di India ada Hinglish atau campuran bahasa Hindi dan Inggris. “Hungry kya?” (Are you hungry?/Apakah Anda lapar?) adalah kalimat Hinglish dalam iklan pizza Domino di India. Di Afrika Selatan, warga disana mencampur bahasa Inggris dengan kosa kata lokal dan aksen Xhosa sebagai ekspresi kebebasan terhadap bahasa penindas, Afrikaans. Buku “Don Quixote” sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Spanglish, hibrida bahasa Spanyol dan Inggris yang digunakan di Amerika Serikat dan Meksiko.
Suatu fenomena yang tidak mengejutkan, mengingat jumlah penutur bahasa Inggris asing (non native speakers) tiga kali lipat lebih banyak dibanding jumlah penutur bahasa Inggris asli (native speakers) di dunia. Di benua Asia saja, jumlah penutur bahasa Inggris mencapai 350 juta jiwa, atau sama dengan jumlah total populasi warga Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Di Cina, saat ini anak-anak yang sedang belajar bahasa Inggris mencapai 100 juta orang, lebih banyak daripada jumlah anak-anak di Inggris Raya.
Kenapa harus memakai bahasa Inggris? Alasan utamanya adalah: pekerjaan. Untuk kelas menengah-bawah India, menguasai bahasa Inggris sama dengan terbukanya kesempatan kerja di pusat pemanggilan telepon (call center) yang sering menjadi mitra outsourcing perusahaan Amerika Serikat. Di Cina, pemerintah pusat mendorong penggunaan bahasa Inggris (terutama bagi warga Beijing) menjelang Olimpiade 2008. 
Dalam laporan British Council, 80% dari informasi yang disimpan secara elektronik memakai bahasa Inggris dan 66% ilmuwan di dunia menggunakan bahasa Inggris. 
Jadi, gejala Indonenglish adalah sebuah gejala umum yang juga dialami oleh negara lain di dunia. Ada yang salah?            

Presiden pun Indonenglish

Di Indonesia, wabah Indonenglish sudah menjalar sampai ke orang nomor satu di pemerintahan. Saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Susilo Bambang Yudhoyono diganjar penghargaan sebagai tokoh berbahasa Indonesia lisan terbaik. Penghargaan itu diberikan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003 silam.   
Tetapi sekarang, Presiden lebih suka memakai Indonenglish. Simak saja pernyataannya saat bertemu dengan Forum Rektor bulan September lalu di Istana Negara.
Saat Presiden berbicara tentang subsidi BBM yang harus dikurangi, ia berkata,
"Saya juga banyak menghabiskan waktu untuk talk direct to the people."
Atau ketika membicarakan tentang harga minyak dunia, Presiden mengatakan,
"Soal minyak ini tidak ada yang tidak headache."
Lalu soal unjuk rasa, Presiden mengatakan,
"That's democracy."
"I know beban rakyat, I know the step of there -economic."
Dan soal pengambilan keputusan menaikkan harga BBM, dikatakannya,
"Bukan berani atau tidak berani, terlambat atau tidak terlambat ambil keputusan, but before I made decision harus sudah diolah semuanya, economic factor-nya, social security political impact-nya. That all the consideration that have to made by me."
Soal pilihan pengambilan keputusan Presiden mengatakan ada dua pilihan,
"Doing nothing policy atau doing something policy."
Ketika berbicara tentang agenda pemerintahan pasca reformasi:
"Kita berada di situ, you are player, jadi kalau reformasi ini membuahkan
hasil, I have to be thank you to you all, karena semua ikut berperan,
tapi kalau ada kurang-kurang, we have realize pada masalah-masalah
yang ada pada kita."
Tentang perjalanan ke New York:
"I good understand bahwa yang dipikirkan kami semua, world leader, di bidang
politik itu bagaimana tata dunia baru menjadi lebih adil, representing
semua kepentingan, listening to the bond of the people all the world.
Maka ada reformasi PBB. We are all concern with yang disebut MDGs."

Tanpa bahasa, punahlah bangsa

Bahasa Indonesia diperjuangkan menjadi bahasa nasional pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1908 oleh pemuda Sumatera Barat, Muhammad Yamin. Bagi Yamin muda, bahasa bukan sekedar alat komunikasi, melainkan jati diri bangsa dan awal nasionalisme. Awalnya, Yamin melihat potensi bahasa nasional bangsa Indonesia pada bahasa Jawa dan Melayu. Usulan memakai bahasa Jawa gugur karena adanya bentuk dan tingkatan pada bahasa Jawa, yaitu ngoko, kromo madya dan kromo inggil. Kondisi ini dikhawatirkan sulit dipahami oleh mereka yang ada di luar Jawa. Akhirnya diresmikanlah bahasa Melayu Riau sebagai bahasa Indonesia.
Menurut Yamin, ketika orang Indonesia mulai mengutamakan bahasanya sendiri sebagai sarana penuturan (dan bukan bahasa asing), itu menunjukkan adanya kecintaan terhadap Indonesia.
Saat ini, ada sekitar 3.000 bahasa yang hampir punah di dunia dan sedang dilestarikan oleh UNESCO. Suatu bahasa dikatakan punah jika 30% dari anak-anak bangsa atau komunitas pengguna bahasa tersebut tidak lagi memakainya.
Indonenglish semakin sering digunakan karena terlihat lebih bergengsi, lebih intelektual dan tidak kampungan. Tetapi apakah kita akan kehilangan bahasa Indonesia?
   
Sumber:
1. ”Who Owns English? Non-native speakers are transforming the global language”. Newsweek. 7 March 2005.
2. Presiden dan Bahasa Inggris”. SUARA PEMBARUAN. 3 Oktober 2005

3. ”77 Tahun Sumpah Pemuda”. KOMPAS. 29 Oktober 2005
4. UNESCO