« September 2005 | Main | November 2005 »

Gay

Saya bertemu dia beberapa minggu yang lalu. Penampilannya sangat tomboy, dengan rambut yang dipotong pendek, wajah yang keras, kemeja laki-laki, celana jeans dan tas ransel. Saya sudah menunggu kedatangannya. Dia melamar ke perusahaan tempat saya bekerja beberapa bulan sebelumnya. Dan dari riwayat hidup yang ia lampirkan itulah saya benar-benar dibuat menganga. Ia mendapatkan beasiswa bergengsi untuk belajar pasca sarjana di bidang antropologi medis. Tidak hanya itu –dalam karir jurnalistiknya pun ia mencatat prestasi gemilang, dengan memenangkan beberapa penghargaan dan melakukan beberapa wawancara dan investigasi eksklusif. Sebut saja namanya Mina.

Saya senang sekali sewaktu Mina akhirnya datang ke kantor saya. Dugaan saya tidak salah. Mina belajar hal baru dengan cepat dan selalu bersemangat dalam melakukan tugasnya. Tetapi penampilannya yang maskulin seringkali membuat orang lain mempertanyakan identitasnya. Sebenarnya, saya juga curiga pada awalnya.

“Kayaknya dia lesbi deh”
“Kenapa, kok kamu bisa berpendapat begitu?”
“Karena… penampilannya sangat maskulin.”
“Memangnya gak boleh?”
“Tapi maskulinnya aneh.”
“Kenapa gak ditanyain aja sama dia?”
“Tadinya sih mau. Sewaktu dia pertama kali datang ke kantor, saya juga sudah punya asumsi seperti itu. Tapi kayaknya gak sopan deh, kalau langsung nanya ke orang baru: ‘Kamu lesbi, bukan?’ “

Dan saya tetap bermain bersama Mina di kantor. Walaupun orang-orang kantor menganggap dia aneh karena penampilannya. Pun pelayan di pasar swalayan seberang jalan. Mereka menanyai saya:” Mbak, yang kemarin wawancarain saya itu lelaki apa perempuan sih?”

Tetapi saya tetap bermain bersama Mina. Kadang saya membantunya liputan dan menjadi asistennya dalam membuat tulisan. Benar-benar suatu kehormatan untuk bisa belajar dari jurnalis sekaliber dia.

Rasa penasaran saya akhirnya terjawab saat kita akan makan malam keluar bersama teman-teman kantor lainnya. Salah satu wartawan bercerita bagaimana dia didiskriminasi karena berkencan dengan orang kulit hitam Kebetulan wartawan itu adalah warga kulit putih Amerika. Ia bercerita mengenai rasisme di negeri adidaya itu. Ia kemudian menanyakan apakah ada yang juga pernah didiskriminasi sewaktu di Amerika.  Dan kata-kata itu keluar dari mulut Mina.

“Being Asian and being gay is the worst thing if you are in United States. And I belong to those groups.”

Oh, benar dugaan saya. Untuk meyakinkan diri, saya menanyakan lagi kepada dia saat rombongan kami mulai makan malam di sebuah kafe.

“Are you gay?”
“Yes, I am.”
“So, you have a girlfriend?”
“Yes, I do. If someone asks me, ‘do you have a boyfriend?’ I will answer ‘No, I don’t.’ But if they ask me whether I have a girlfriend, I will say I do.”
“Is it okay to your family? Do you have difficulties to come up with this identity in your country?”
“In my country, homosexual is considered as taboo. But actually people there accept us. They just don’t want to be open about it in public.”

Lalu saya menceritakan tentang pertemanan saya dengan lelaki gay. Dia kecengan saya sewaktu di bangku kuliah. Dari lelaki inilah saya mulai mengenal tentang gay, kehidupan dan komunitasnya.

“Have you ever met gay people before?”
“Yes, he’s my classmate in campus. In fact, I had a crush on him. He’s really nice and sweet. But when he found out that I like him, he short of giving me ‘I don’t like you’ signals. Later, I realize that it’s not only me– he doesn’t like all girls!”
“Hahaha… yeah, don’t take it personally”

Saya kemudian mengundang dia bermalam di rumah saya. Dan ternyata saya semakin kagum dengan dia. Dari pendiriannya, sikapnya terhadap hidup dan pandangannya terhadap berbagai hal. Di negerinya, Mina termasuk etnis diaspora yang didiskriminasi oleh pemerintah. Ia tidak bisa menjadi anggota partai politik terbesar di negeri itu, karena  tidak memeluk agama mayoritas. Dalam hal kesempatan kerja dan akses terhadap pendidikan, kelompok etnis Mina tidak mendapatkan porsi sebesar etnis penduduk asli.

“Why don’t you change your citizenship? You can apply for a green card and become American citizen, for instance. At least there you would have better opportunity on work fields and education, right?”
“Yeaahh …. But I don’t want to change my citizenship. I have beautiful memories in my homeland. I like there. Actually, I love its people. I don’t really care about discriminations or government policies against us. I have the rights to be there as well as other ethnic groups. I’m the people. As long as I live, I don’t want to change my citizenship.”

Dari pembicaraan mengenai politik, ke pembicaraan mengenai keluarga, cinta, homoseksualitas….

“How do I know that I’m not gay? How does it feel to love other girl? How do you find out that you are gay?”
“For me, I feel greater emotional attachment with girl. I’m closer to girls than boys. Gay is not only about intimate relationship. It is more about identity, being honest about your feelings, about yourself.”
“You know, I have discussed this issue with one of my colleagues in campus. She said that if everybody becomes homosexual, than how humans can reproduce? How can we substitute reproduction function?”
“It will never happen."
“Huh?”
“Homosexual is minority group. In primate studies, you can always find certain proportion of individuals who consistently seek out mates of the same gender. And their number never dominated the whole population. So why do we debate things that don’t happen?” 

Sebagian orang menganggap homoseksualitas adalah penyakit gangguan jiwa. Tetapi menurut sebuah penelitian, gen homoseksual memang ada -Homoseksual memiliki dasar biologis. Pada tahun 1993, Dean Hamer1 menemukan satu gen di kromosom X yang memiliki pengaruh besar terhadap orientasi seksual. Oleh kalangan media, gen ini disebut gen gay.

Hamer melakukan penelitiannya kepada 114 keluarga yang memiliki anggota keluarga pria gay. Anggota keluarga dari generasi sebelumnya yang paling mungkin seorang gay bukan dari garis ayah, melainkan saudara laki-laki ibu. Homoseksualitas diturunkan melalui garis perempuan. Hamer menyimpulan bahwa gen itu berada di kromosom X, satu-satunya perangkat gen penting yang diwarisi seorang pria dari ibunya. Dengan membandingkan seperangkat penanda genetic antara pria normal dan pria gay, ia menemukan suatu daerah pada bagian ujung lengan kromosom  tersebut pada lokus 28 yang menjadi lokasi gen gay itu. Atau disebut juga dengan gen Xq28.

Homoseksualitas sendiri dikeluarkan dari kategori gangguan jiwa oleh Asosiasi Psikiater Amerika pada tahun 1973. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun melakukan hal serupa.

Tetapi Mina mengatakan, fakta biologis homoseksualitas bisa berbahaya karena dapat diinterpretasikan sebagai jalan untuk melakukan eugenika terhadap kaum gay. Eugenika (eugenics) adalah upaya mendapatkan sifat-sifat yang diinginkan pada manusia. Konsep ini terinspirasi oleh praktik pemuliaan hewan dan tumbuhan yang dilakukan melalui teknik peternakan serta kawin silang. Hasil yang didapat adalah hewan ternak yang gemuk, bunga yang harum atau padi berbibit unggul. Salah satu tokoh eugenika awal adalah Plato, yang berpendapat, wewenang untuk melakukan eugenika berada di tangan pemerintah. Konsep ini masih kontroversial dan beberapa pihak melihatnya sebagai ilmu pengetahuan semu (pseudo-science). Dalam sejarah, eugenika merupakan dasar dilakukannya genosida Yahudi pada zaman Hitler, karena Jerman menganggap Arya sebagai ras paling unggul diantara semua bangsa di dunia. Pada saat itu, eugenika dilakukan dengan cara aborsi, pembunuhan dan sterilisasi atas nama penyempurnaan genetik.    

Dalam Islam, landasan utama yang dipakai untuk menolak relasi seksual sejenis adalah kisah Nabi Luth yang diabadikan di surat Hud ayat 77-83. Dikisahkan bahwa Allah menghujani kaum Luth dengan batu dari langit lalu ditelungkupkan dan diamblaskan ke dalam bumi. Semasa Rasulullah, tidak ada satu kasus pun tentang penghukuman atas praktik relasi seksual sejenis. Eksekusi pertama dibuat pada masa khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan seorang homoseksual dibakar hidup-hidup. Para sarjana berbeda pendapat mengenai hal ini dan akhirnya diputuskan homoseksual itu dilempar dari gedung tinggi dan kemudian dilempar batu sampai mati2.

Ulama fiqh pun berbeda pendapat tentang hukuman terhadap kaum homoseksual. Mazhab Hanafi yang dominant di Asia Timur dan Selatan menegaskan tidak baiknya hukuman fisik; Mazhab Hambali yang dominant di Negara Arab menegaskan keharusan untuk menghukum secara fisik. Mazhab Syafii beranggapan hukuman dapat dilakukan bila ada 4 saksi laki-laki.

Pandangan alternatif terhadap homoseksual juga diungkapkan oleh Scott Siraj al-Haqq Kugle3, Omar Nahas4 dan Amreen Jamal5 seperti dilansir dalam Safra Project Centre, dimana interpretasi kejadian dalam kisah Nabi Luth tidak semata akibat praktik homoseksual, tetapi karena perbuatan illegal lainnya5

***

Saya beruntung saya bukan gay. Bukan karena saya membenci mereka, tetapi karena saya malas berurusan dengan penentangan dari masyarakat, dari keluarga, teman-teman sekolah dan mungkin dari orang-orang saya cintai lainnya. Tapi saya pernah merasakan didiskriminasi karena tidak memenuhi standar yang ada dalam masyarakat; saya bisa merasakan dibenci walaupun tidak merugikan orang lain; saya bisa merasakan ditolak oleh orang lain –bukan karena bersalah, tetapi karena berbeda.    

Saya belajar banyak dari Mina dan saya tidak memiliki alasan untuk membencinya . Jika saya tetap menjadi seorang jurnalis, saya ingin menjadi seorang jurnalis seperti dia.

Mina, saya sayang kamu.


* Baca cerita tentang Mina lainnya di sini.    

1) Hamer, D.H., Hu., S., Magnuson, V.L., Hu., N. dkk (1993). A linkage between DNA markers on the X chromosome and male sexual orientation. Science 261:321-7 dalam Ridley, Matt, GENOME: The Autobiography of A Species in 23 Chapters, 1999.   

2) Alimi, Yasir. Dekonstruksi Seksualitas Poskolonial. LKIS. Yogyakarta. 2004

3) Sexuality, Diversity and Ethics in the Agenda of Progressive Muslims in Progressive Muslims from One World Publication (2003) dalam Alimi.

4) Islam en Homoseksualiteit dalam Alimi.

5) The story of  Lut and the Qurans’ perception of the morality of same sex sexuality dalam Alimi. 

Masa pelatihan

Hari pertama training jurnalisme radio Asia Calling berlangsung hari Sabtu (15/10), tetapi ceritanya sudah berlangsung sejak empat hari sebelumnya. Rencananya, materi pelatihan akan dibagi dua, menjadi pelatihan jurnalistik dasar dan teknik rekaman dan editing berita. Materi jurnalistik dasar lebih menekankan kepada isi berita, bagaimana menulis paket radio dan teknik-teknik wawancara. Sementara teknik rekaman dan editing lebih mengajarkan pelatihan untuk menguasai alat liputan (dalam hal ini tape recorder) dan pengeditan hasil lapangan menjadi suatu paket berita utuh.
Sesi jurnalistik dasar akan diberikan oleh Suzanne Yates, seorang trainer berpengalaman dari BBC, sementara teknik rekaman dan editing akan diberikan oleh Becky Lipscombe yang pernah memberikan training serupa di Asia Calling bulan April lalu. 
Sayangnya, Becky tidak bisa memberikan materi pelatihan karena ditugaskan meliput gempa di Afganishtan pada hari Selasa (11/10). Dan kita -panitia training di radio 68H- tidak punya trainer cadangan untuk menggantikan Becky!
Pahlawan_harii_ini2_1Pada saat yang mepet itu, Elin berhasil ‘memaksa’ mas Ade Wahyudi, Koordinator Reporter 68H menjadi trainer pengganti Becky (ini lho... yang gambarnya sedang tersenyum lebar di samping ini -makasih lo, Mas Ade). Akhirnya kita pun bisa bernafas sedikit lega. Tetapi ketegangan masih berlanjut… 
Jumat (14/10) sekitar jam 6 sore, Ong Ju Lin, salah satu calon koresponden Malaysia menelpon dari Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA). Ia ternyata ditahan oleh manajer bandara KLIA karena pasportnya kurang dari 6 bulan! Akhirnya kita (yaitu gue, Elin dan mas Ade) sibuk untuk mengusahakan Ju Lin dapat diterbangkan ke Indonesia. Dari Pak Ade Endang Dahlan, bekas humas Departmeen Imigrasi, kita mengetahui bahwa Ju Lin masih diperbolehkan memasuki Indonesia karena masa berlakunya masih di atas empat bulan. Pfiiuuh… Tapi belum selesai. Manajer airport KLIA shift malam, Cik Oji Wati masih meminta bukti hitam di atas putih. Untunglah manajer airport pagi, Cik Maryapan memperbolehkan Ju Lin berangkat dengan Air Asia jam 11 pagi. 

Akhirnya

Training_room2Training dibuka dengan perkenalan dan menentukan target yang ingin dicapai oleh masing-masing peserta. Umumnya, peserta ingin memperoleh ketrampilan baru, yaitu dapat meliput dan membuat paket berita radio. Suzanne memiliki metode dimana setiap hari, materi yang diajarkan ditempel ke dinding ruang pelatihan, sehingga pada akhir masa pelatihan, peserta dapat melihat apa saja yang sudah dipelajari. Kali ini, setiap target ditulis dan ditempelkan di dinding ruangan.
Menulis berita radio berbeda dari menulis berita untuk media cetak atau televisi. Ron Corben, koresponden Thailand yang mengikuti training pertama bulan Maret lalu mengakui, saat menulis berita untuk radio, ia harus berpikir secara audio: seberapa banyak suara natural (natural sound/background sound) yang didapat, siapa yang berhasil diwawancarai, apakah kualitas suara layak untuk standar radio, dll. Dan, karena radio tidak memiliki alat Suren_dan_ac_2_1bantu visual (seperti foto dalam media cetak), maka suara yang dihasilkan harus bisa memberikan gambaran tertentu di pikiran pendengarnya. Dalam paket feature, gaya bercerita (story telling) sangat dibutuhkan untuk membawa pendengar ke suatu tempat atau membayangkan apa yang ingin disampaikan oleh penyiar. Contoh dari penggambaran berita seperti ini diperdengarkan dalam paket “Three Gorges Dam” dari Wingfield Hayes dan “Kunjungan Panitia Olimpiade ke Rusia (Rusia IOC)” dari  Rossenburg  –keduanya wartawan BBC.
Satu prinsip penting dalam penulisan berita radio adalah KISS: Keep It Simple, Stupid! Jangan menulis lebih dari satu pikiran utama dalam satu kalimat (dengan kata lain: jangan gunakan anak kalimat). Pemilihan kata juga menentukan –lebih baik memakai kata yang singkat dan mudah dipahami.

Teknik merekam

Check_sound_1Dalam sesi teknik merekam dan mewawancara, diberikan tips untuk memperoleh hasil rekaman yang jernih dan baik. Kondisi ruang rekaman harus diperhatikan, misalnya saat meliput di sebuah konferensi pers. Apakah ruang konferensi pers tsb memiliki permukaan yang licin atau mengkilap, karena material seperti itu akan dengan mudah memantulkan suara sehingga dapat menghasilkan efek gema (seperti di kamar mandi). Pendingin ruangan (AC) dan kipas angin juga menghasilkan suara dengungan yang bisa mengganggu hasil rekaman wawancara. Suzanne menganjurkan agar tidak malu meminta pemilik ruangan untuk mematikan AC atau kipas angin untuk memperoleh kualitas suara yang baik.
Setelah mempelajari teknik penulisan dan rekaman paket berita radio, masing-masing peserta diharuskan membuat paket berita sendiri. Amy membuat paket tentang penggunaan dwibahasa di Singapura, bagaimana penduduk kota itu ‘terperangkap’ diantara bahasa Inggris dan Cina; Jemima membuat paket tentang tempat penampungan bagi Suren_in_studio2perempuan yang mengalami kekerasan domestik; Ju Lin mewawancarai tukang bajaj dan penjual tajil di Indomaret untuk paketnya mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak di Indonesia; sementara Suren merekam suara bangunan di kompleks Utan Kayu untuk paketnya mengenai pembangunan Aceh pasca tsunami.

Tawa dan Tangis

End_training2Toscha (Direktur 68H), Tessa (MDLF) dan Louise (Editor Asia Calling) bergabung pada hari terakhir dalam sesi 'Laughters and Tears' untuk mendengarkan paket yang dibuat masing-masing peserta. Mas Ade menjelma menjadi Goh Cok Tong dan Jan Egeland dalam clip Amy dan Suren. Acara ditutup dengan foto-foto dan penyerahan sertifikat. Tetapi malamnya, trainer dan peserta menghabiskan waktu bersama dengan makan seafood di Kelapa Gading. Kita tunggu bagaimana laporan mereka dari negeri masing-masing untuk Asia Calling :)

Training kedua Asia Calling, 15 - 18 Oktober 2005

Asia Calling menyelenggarakan training jurnalisme radio untuk yang kedua kalinya di radio 68H, Jl. Utan Kayu no. 68H, Jkt. Training kedua ini bertujuan untuk melatih koresponden baru yang tidak memiliki latar belakang media radio. Rekrutmen peserta diutamakan di negara Asia Timur dan Tenggara yang belum terdapat koresponden Asia Calling. Diantaranya adalah di Malaysia, Singapura, Birma, Timor Leste, Taiwan. Raut juga ikut membantu proses rekrutmen ini (Thanks, Raut!).
Setelah beberapa minggu, akhirnya terkumpul empat orang calon koresponden baru. Mereka adalah:
Amy_rashapAmy Rashap – Amy adalah seorang guru bahasa Inggris di Pusat Pendidikan Amerika di Singapura. Ia juga seorang penulis dan fotografer lepas. Amy memperoleh gelar sarjana di bidang antropologid an arkeologi pada thn 1978 (err…. gue baru lahir saat itu…) dan meraih PhD di bidang cerita rakyat (folklore). Dari penampilannya, tidak ada yang menyangka kalau Amy sudah berumur… lima puluh tahun!! Tapi dia memang berjiwa muda. Dan kecintaannya adalah … menulis (I love to write, akunya).
Jemima_gilliJemima Gilli – Jemima adalah seorang reporter dan penyiar di Radio Mindanao Network (RMN). Ia sudah bekerja di bidang media sejak tahun 1991. Sebelumnya, ia pernah bekerja di berbagai radio di Filipina, termasuk radio DXUM, DXBR sampai sekarang di radio DXDC, Davao, Mindanao Selatan. Berbeda dengan radio Filipina di Manila, DXDC tidak menggunakan Tagalog dalam siarannya, tetapi menggunakan bahasa Visayas. Pendengar radio DXDC pasti kangen dengan suara Jemima karena pada hari terakhir di Jakarta, ia mendapat SMS dari pendengarnya yang mempertanyakan kemana Jemima pergi selama empat hari terakhir.
Suren_kumar Suren K – Suren adalah jurnalis senior di harian terkemuka Malaysia. Ia sudah bekerja di harian tersebut selama 11 tahun (kira-kira gue bisa selama itu gak ya…) dan sudah meliput berbagai berita nasional dan internasional, seperti pemecatan bekas Wakil Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim dan unjuk rasa yang menyusul. Uniknya, Suren awalnya berprofesi sebagai paramedik. 
Ong_ju_lin Ong Ju Lin – Woooh… ini yang aku tunggu-tunggu. Ju Lin adalah sarjana biologi (sama seperti gue) yang lulus cum laude (tidak sama seperti gue). Tahun ini, debut film dokumenternya, Clean Shit/Alice Lives Here memperoleh Justin Louis Award di Freedom Film Festival. Film itu sendiri bercerita tentang Alice, warga Broga yang bekerja sebagai kasir di sebuah perusahaan furniture yang mengorganisir penduduk kota untuk menentang rencana pembangunan incinerator terbesar di Asia Tenggara. Ju Lin melihat Alice seperti Errin Brokovich-nya Broga. Ju Lin sendiri adalah jurnalis berpengalaman yang pernah bekerja di dua harian nasional Malaysia. Saat ini, ia bekerja sebagai penulis, fotografer dan pembuat film dokumenter lepas.   
Adapun trainer pada pelatihan kali ini adalah:
Suzanne_yates Suzanne Yates – Suzanne adalah bekas kepala training BBC World Service di London. Ia baru saja pindah ke Indonesia pada bulan Juli 2005. Suzanne memulai karirnya sebagai reporter koran di Inggris dan Timur Tengah. Di Jakarta, ia bekerja di UNICEF dalam proyek kampanye media untuk pemberantasan polio. Masa pelatihan dapat dilihat dalam posting selanjutnya.