Gay
Saya bertemu dia beberapa minggu yang lalu. Penampilannya sangat tomboy, dengan rambut yang dipotong pendek, wajah yang keras, kemeja laki-laki, celana jeans dan tas ransel. Saya sudah menunggu kedatangannya. Dia melamar ke perusahaan tempat saya bekerja beberapa bulan sebelumnya. Dan dari riwayat hidup yang ia lampirkan itulah saya benar-benar dibuat menganga. Ia mendapatkan beasiswa bergengsi untuk belajar pasca sarjana di bidang antropologi medis. Tidak hanya itu –dalam karir jurnalistiknya pun ia mencatat prestasi gemilang, dengan memenangkan beberapa penghargaan dan melakukan beberapa wawancara dan investigasi eksklusif. Sebut saja namanya Mina.
Saya senang sekali sewaktu Mina akhirnya datang ke kantor saya. Dugaan saya tidak salah. Mina belajar hal baru dengan cepat dan selalu bersemangat dalam melakukan tugasnya. Tetapi penampilannya yang maskulin seringkali membuat orang lain mempertanyakan identitasnya. Sebenarnya, saya juga curiga pada awalnya.
“Kayaknya dia lesbi deh”
“Kenapa, kok kamu bisa berpendapat begitu?”
“Karena… penampilannya sangat maskulin.”
“Memangnya gak boleh?”
“Tapi maskulinnya aneh.”
“Kenapa gak ditanyain aja sama dia?”
“Tadinya sih mau. Sewaktu dia pertama kali datang ke kantor, saya juga sudah punya asumsi seperti itu. Tapi kayaknya gak sopan deh, kalau langsung nanya ke orang baru: ‘Kamu lesbi, bukan?’ “
Dan saya tetap bermain bersama Mina di kantor. Walaupun orang-orang kantor menganggap dia aneh karena penampilannya. Pun pelayan di pasar swalayan seberang jalan. Mereka menanyai saya:” Mbak, yang kemarin wawancarain saya itu lelaki apa perempuan sih?”
Tetapi saya tetap bermain bersama Mina. Kadang saya membantunya liputan dan menjadi asistennya dalam membuat tulisan. Benar-benar suatu kehormatan untuk bisa belajar dari jurnalis sekaliber dia.
Rasa penasaran saya akhirnya terjawab saat kita akan makan malam keluar bersama teman-teman kantor lainnya. Salah satu wartawan bercerita bagaimana dia didiskriminasi karena berkencan dengan orang kulit hitam Kebetulan wartawan itu adalah warga kulit putih Amerika. Ia bercerita mengenai rasisme di negeri adidaya itu. Ia kemudian menanyakan apakah ada yang juga pernah didiskriminasi sewaktu di Amerika. Dan kata-kata itu keluar dari mulut Mina.
“Being Asian and being gay is the worst thing if you are in United States. And I belong to those groups.”
Oh, benar dugaan saya. Untuk meyakinkan diri, saya menanyakan lagi kepada dia saat rombongan kami mulai makan malam di sebuah kafe.
“Are you gay?”
“Yes, I am.”
“So, you have a girlfriend?”
“Yes, I do. If someone asks me, ‘do you have a boyfriend?’ I will answer ‘No, I don’t.’ But if they ask me whether I have a girlfriend, I will say I do.”
“Is it okay to your family? Do you have difficulties to come up with this identity in your country?”
“In my country, homosexual is considered as taboo. But actually people there accept us. They just don’t want to be open about it in public.”
Lalu saya menceritakan tentang pertemanan saya dengan lelaki gay. Dia kecengan saya sewaktu di bangku kuliah. Dari lelaki inilah saya mulai mengenal tentang gay, kehidupan dan komunitasnya.
“Have you ever met gay people before?”
“Yes, he’s my classmate in campus. In fact, I had a crush on him. He’s really nice and sweet. But when he found out that I like him, he short of giving me ‘I don’t like you’ signals. Later, I realize that it’s not only me– he doesn’t like all girls!”
“Hahaha… yeah, don’t take it personally”
Saya kemudian mengundang dia bermalam di rumah saya. Dan ternyata saya semakin kagum dengan dia. Dari pendiriannya, sikapnya terhadap hidup dan pandangannya terhadap berbagai hal. Di negerinya, Mina termasuk etnis diaspora yang didiskriminasi oleh pemerintah. Ia tidak bisa menjadi anggota partai politik terbesar di negeri itu, karena tidak memeluk agama mayoritas. Dalam hal kesempatan kerja dan akses terhadap pendidikan, kelompok etnis Mina tidak mendapatkan porsi sebesar etnis penduduk asli.
“Why don’t you change your citizenship? You can apply for a green card and become American citizen, for instance. At least there you would have better opportunity on work fields and education, right?”
“Yeaahh …. But I don’t want to change my citizenship. I have beautiful memories in my homeland. I like there. Actually, I love its people. I don’t really care about discriminations or government policies against us. I have the rights to be there as well as other ethnic groups. I’m the people. As long as I live, I don’t want to change my citizenship.”
Dari pembicaraan mengenai politik, ke pembicaraan mengenai keluarga, cinta, homoseksualitas….
“How do I know that I’m not gay? How does it feel to love other girl? How do you find out that you are gay?”
“For me, I feel greater emotional attachment with girl. I’m closer to girls than boys. Gay is not only about intimate relationship. It is more about identity, being honest about your feelings, about yourself.”
“You know, I have discussed this issue with one of my colleagues in campus. She said that if everybody becomes homosexual, than how humans can reproduce? How can we substitute reproduction function?”
“It will never happen."
“Huh?”
“Homosexual is minority group. In primate studies, you can always find certain proportion of individuals who consistently seek out mates of the same gender. And their number never dominated the whole population. So why do we debate things that don’t happen?”
Sebagian orang menganggap homoseksualitas adalah penyakit gangguan jiwa. Tetapi menurut sebuah penelitian, gen homoseksual memang ada -Homoseksual memiliki dasar biologis. Pada tahun 1993, Dean Hamer1 menemukan satu gen di kromosom X yang memiliki pengaruh besar terhadap orientasi seksual. Oleh kalangan media, gen ini disebut gen gay.
Hamer melakukan penelitiannya kepada 114 keluarga yang memiliki anggota keluarga pria gay. Anggota keluarga dari generasi sebelumnya yang paling mungkin seorang gay bukan dari garis ayah, melainkan saudara laki-laki ibu. Homoseksualitas diturunkan melalui garis perempuan. Hamer menyimpulan bahwa gen itu berada di kromosom X, satu-satunya perangkat gen penting yang diwarisi seorang pria dari ibunya. Dengan membandingkan seperangkat penanda genetic antara pria normal dan pria gay, ia menemukan suatu daerah pada bagian ujung lengan kromosom tersebut pada lokus 28 yang menjadi lokasi gen gay itu. Atau disebut juga dengan gen Xq28.
Homoseksualitas sendiri dikeluarkan dari kategori gangguan jiwa oleh Asosiasi Psikiater Amerika pada tahun 1973. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun melakukan hal serupa.
Tetapi Mina mengatakan, fakta biologis homoseksualitas bisa berbahaya karena dapat diinterpretasikan sebagai jalan untuk melakukan eugenika terhadap kaum gay. Eugenika (eugenics) adalah upaya mendapatkan sifat-sifat yang diinginkan pada manusia. Konsep ini terinspirasi oleh praktik pemuliaan hewan dan tumbuhan yang dilakukan melalui teknik peternakan serta kawin silang. Hasil yang didapat adalah hewan ternak yang gemuk, bunga yang harum atau padi berbibit unggul. Salah satu tokoh eugenika awal adalah Plato, yang berpendapat, wewenang untuk melakukan eugenika berada di tangan pemerintah. Konsep ini masih kontroversial dan beberapa pihak melihatnya sebagai ilmu pengetahuan semu (pseudo-science). Dalam sejarah, eugenika merupakan dasar dilakukannya genosida Yahudi pada zaman Hitler, karena Jerman menganggap Arya sebagai ras paling unggul diantara semua bangsa di dunia. Pada saat itu, eugenika dilakukan dengan cara aborsi, pembunuhan dan sterilisasi atas nama penyempurnaan genetik.
Dalam Islam, landasan utama yang dipakai untuk menolak relasi seksual sejenis adalah kisah Nabi Luth yang diabadikan di surat Hud ayat 77-83. Dikisahkan bahwa Allah menghujani kaum Luth dengan batu dari langit lalu ditelungkupkan dan diamblaskan ke dalam bumi. Semasa Rasulullah, tidak ada satu kasus pun tentang penghukuman atas praktik relasi seksual sejenis. Eksekusi pertama dibuat pada masa khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan seorang homoseksual dibakar hidup-hidup. Para sarjana berbeda pendapat mengenai hal ini dan akhirnya diputuskan homoseksual itu dilempar dari gedung tinggi dan kemudian dilempar batu sampai mati2.
Ulama fiqh pun berbeda pendapat tentang hukuman terhadap kaum homoseksual. Mazhab Hanafi yang dominant di Asia Timur dan Selatan menegaskan tidak baiknya hukuman fisik; Mazhab Hambali yang dominant di Negara Arab menegaskan keharusan untuk menghukum secara fisik. Mazhab Syafii beranggapan hukuman dapat dilakukan bila ada 4 saksi laki-laki.
Pandangan alternatif terhadap homoseksual juga diungkapkan oleh Scott Siraj al-Haqq Kugle3, Omar Nahas4 dan Amreen Jamal5 seperti dilansir dalam Safra Project Centre, dimana interpretasi kejadian dalam kisah Nabi Luth tidak semata akibat praktik homoseksual, tetapi karena perbuatan illegal lainnya5.
***
Saya beruntung saya bukan gay. Bukan karena saya membenci mereka, tetapi karena saya malas berurusan dengan penentangan dari masyarakat, dari keluarga, teman-teman sekolah dan mungkin dari orang-orang saya cintai lainnya. Tapi saya pernah merasakan didiskriminasi karena tidak memenuhi standar yang ada dalam masyarakat; saya bisa merasakan dibenci walaupun tidak merugikan orang lain; saya bisa merasakan ditolak oleh orang lain –bukan karena bersalah, tetapi karena berbeda.
Saya belajar banyak dari Mina dan saya tidak memiliki alasan untuk membencinya . Jika saya tetap menjadi seorang jurnalis, saya ingin menjadi seorang jurnalis seperti dia.
Mina, saya sayang kamu.
* Baca cerita tentang Mina lainnya di sini.
1) Hamer, D.H., Hu., S., Magnuson, V.L., Hu., N. dkk (1993). A linkage between DNA markers on the X chromosome and male sexual orientation. Science 261:321-7 dalam Ridley, Matt, GENOME: The Autobiography of A Species in 23 Chapters, 1999.
2) Alimi, Yasir. Dekonstruksi Seksualitas Poskolonial. LKIS. Yogyakarta. 2004
3) Sexuality, Diversity and Ethics in the Agenda of Progressive Muslims in Progressive Muslims from One World Publication (2003) dalam Alimi.
4) Islam en Homoseksualiteit dalam Alimi.
5) The story of Lut and the Qurans’ perception of the morality of same sex sexuality dalam Alimi.












