« Amigos para siempre | Main | Memandang Bintang di Langit Lembang »

Janji Joko

“Why do you always assume the worst about people?”

“Statistics”

(Miamy Rhapsody)

Tetapi di mata Joni, ia melihat orang dengan kacamata yang berbeda, dimana semua orang pasti memiliki kebaikan - termasuk dalam dirinya sendiri. Karena itu, Joni selalu siap membantu siapa pun yang membutuhkan. Dengan cara pandangnya yang demikian, janji Joni kepada seorang gadis cantik di bioskop tidak dapat dipenuhi.

Film Janji Joni (JJ) bercerita tentang Joni (Nicholas Saputra), seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu sebagai pengantar rol film di bioskop. Prinsip yang dipegangnya sebagai seorang pengantar rol profesional adalah ketepatan mengantar rol film pada waktunya. Track recordnya selalu bersih. Dan ia bangga akan hal itu. Tidak hanya menyadari betapa berkuasanya dia terhadap nasib penonton bioskop terhadap film yang sedang ditonton, tetapi pekerjaan mengantar juga menjadi tradisi dalam keluarganya.

Sampai akhirnya Joni jatuh cinta kepada seorang gadis (Mariana Renata) di sela-sela kerjanya. Gadis itu berjanji akan memberitahukan namanya kalau Joni dapat mengantarkan film tepat waktu. Suatu pekerjaan mudah yang sudah ia kuasai setiap hari. Tetapi sekarang, seluruh kota seakan tidak mengizinkan dia menepati janjinya.

Dalam perjalanannya, Joni menemukan banyak halangan, mulai dari seorang kakek buta yang tidak bisa menyeberang jalan, supir taksi yang terlalu ramah, istri supir taksi yang ingin melahirkan, terjebak dalam sebuah syuting film, membantu perempuan muda yang dicopet, bermain drum dalam sebuah audisi, bertemu dengan seniman nyentrik dan menumpang sebuah mobil ambulans.

Pertanyaan yang diajukan kepada film ini, begitu banyak tokoh-tokoh unik dan nyentrik yang ditemui Joni dalam petualangannya. Menurut sang penulis skenario yang sekaligus sutradara film, Joko Anwar, tokoh-tokoh itu memang ditingkatkan eksentrismenya agar karakternya lebih tinggi dan lebih diingat oleh penonton.

After all, it is a comedy-adventure movie.

Bertemu dengan seniman nyentrik, ibu hamil tua yang mau melahirkan, anak band yang mau audisi dan seterusnya dalam durasi dua rol film….

Apakah mungkin?

Mungkin aja. Kenapa enggak?

Walaupun dalam hal ini gue bakalan bilang: it’s not impossible, it’s improbable.

Itu tidak mustahil, tetapi kemungkinan terjadinya sangat kecil.

But hey! Isn’t that movie is all about?

Kalau kejadian rutinitas Joni sehari-hari Joni nganterin film, kuliah, makan siang, ngobrol  -- ngapain difilmin?

Film ini bercerita tentang sebuah kejadian penting dan unik dalam hidup Joni. Mungkin aja gadis itu, Angelique, adalah pasangan hidupnya. Mungkin aja besoknya Joni gak bakal ketemu sama orang-orang ‘aneh’ seperti hari di saat ia berjanji dengan Angelique. Dan di film ini, kita diajak untuk ngerasain kejadian penting dan istimewa yang pernah dialami seorang Joni.

Dengan taburan bintang-bintang seperti Rachel Maryam, Dwiki “Oreo” Riza, Tora Sudiro, Winky Wiryawan, Catherine Wilson, Barry Prima, Robby Tumewu, Ria Irawan, Aming dan Ronald ”Extravaganza”, duet Wulan Guritno dan Ananda Mikola dan sederet bintang ternama lainnya, film ini gampang menggiring penonton ke bioskop

Lelucon dan berbagai kejutan yang terus mengalir dari awal sampai akhir film membuat penonton gak bakal merasa rugi menjatuhkan pilihannya pada karya perdana Joko Anwar ini.

Pada bagian awal, penonton dibawa ke berbagai ilustrasi dulu sebelum memulai cerita: pikiran warga Jakarta, teman-teman Joni yang terinspirasi film, serta proses pemutaran sebuah film di bioskop. Dan semuanya dikemas dengan irama yang cepat. Joko pun mengakui hal itu.

"Film ini memang film yang cepat"

(Joko Anwar, Janji Joni: Behind The Scene PART 2, SCTV 23 April 2005)

Irama cepat seakan menjadi ciri khas filmnya. Seperti dalam karyanya di Festival Film Independen Indonesia (FFII) 2002, Paquita Wijaya melihat cepatnya irama film AMOK yang masuk 10 besar. Dalam AMOK, Joko juga mengajak penonton berkeliling dulu dengan shoot vox pop dan casting sebelum masuk ke dalam cerita inti.

Sebelumnya, nama ‘Joni’ juga menjadi tokoh utama dalam film pendek Joko, yaitu pada film “Joni Be Brave”, sebuah film 18 menit yang dibuat khusus untuk perhelatan Konferensi Unity in Diversity di Bali tahun 2003. Film bilingual ini mengisahkan tentang nasib seorang Joni (Alex Abad) yang putus asa akan masa depannya setelah lulus kuliah dan tidak mendapatkan pekerjaan. Turut berperan disini antara lain Sandrina Malakiano dan Jajang C Noer.

Selain film dan paket TV “Behind The Scene”, Kalyana Shira juga mengeluarkan buku yang berisi skenario dan catatan harian sutradara, produser dan pengamat (John Badalu) film JJ pada saat pembuatannya. Disini, kita bisa mengetahui ribetnya proses pengambilan gambar di lapangan. Kita juga bisa tahu janji-janji yang dibuat oleh para pemainnya. Baru tahu kan, kalau salah satu janji terbesar yang dipenuhi oleh Tora Sudiro adalah tidak menghamili istrinya sebelum menikah?

The auteur

Jauh sebelum menyutradari film layar lebar, nama Joko Anwar sudah terkenal di dunia perfilman.... ITB! Hehehe… Tapi bener kok. Saat Erika menjadi ketua Kine Klub Liga Film Mahasiswa ITB periode 1997/1998, ia berniat untuk mengembangkan apresiasi film anggota Kine Klub yang baru masuk (termasuk gue). Dan direkomendasikanlah Joko menjadi mentor apresiasi Kineklub LFM. Setiap Sabtu, Joko datang membawa video-video koleksinya untuk kita tonton dan bahas. Salah satu film yang ia bawa adalah “Heavenly Creatures”-nya Kate Winslet. Kate berperan sebagai seorang anak sekolah yang merencanakan sebuah pembunuhan bersama teman perempuannya karena keduaanya tidak ingin dipisahkan. Disini, Kate meraih penghargaan Best British Actress tahun 1994, jauh sebelum Titanic beredar. Film lain yang dibawa Joko adalah “Poison” yang berisi tentang tiga cerita dalam satu film. Film pertama mengisahkan tentang anak kecil yang membunuh ayahnya, film kedua tentang ilmuwan yang mengisolasi seksualitas manusia lalu meminumnya, dan film ketiga tentang kisah dua orang tahanan di penjara. Saat itu, gue melihatnya seperti penceritaan film Kuldesak (1998) yang dibuat oleh Mira Lesmana dkk, dimana terdapat beberapa kisah dalam satu film.

Pelajaran pertama yang diberikan Joko tentang resensi film adalah (I quote this from my diary, dated 27th  February 1998):

“Resensi yang baik itu yang bukan cuma memberi komentar saja: bagus atau jelek. Tetapi juga harus punya alasan yang kuat, yang bisa diterima pakai akal, kenapa baik, kenapa buruk. Dan resensi yang baik juga tidak hanya membahas apa yang ada di film itu saja, tetapi (orang yang meresensi) juga harus mengerti latar belakang film itu, baik secara teknis maupun non teknis.”

Buku skenario JJ menjadi penunjang untuk mengetahui lebih banyak tentang latar belakang pembuatan film itu. Tetapi ingat, urutannya: nonton film dulu, baru baca. Seperti kata sutradaranya:

Watch the movie, read the book, then you can kill me”

-gue gak bisa bunuh dia karena gue nonton film setelah baca bukunya :p-

Janji_joni_1 Janji Joko

Kalau janji para pemain JJ dapat kita baca di bukunya, apa sebenarnya janji terbesar sang sutradara yang sudah berhasil ditepati?

"Bikin film Janji Joni"

Pernah gak berjanji untuk menjadi seorang sutradara?

“Pernah, sama semua orang

Gue sendiri melihat JJ sebagai bentuk kecintaan Joko terhadap film. Kita bisa melihat bagaimana Joko menceritakan pengaruh film-film yang ditonton seseorang terhadap hidupnya. Bagaimana Joko dengan fasih membagi pengetahuannya tentang perjalanan sebuah film: ditulis, ditawarkan ke penyandang dana, dibuat, diedit, dipublikasikan dan ditonton. Bagaimana Joko -sebagai seorang penikmat film- memaparkan hasil pengamatannya megenai berbagai jenis penonton di bioskop. Bagaimana Joko dengan rendah hati menyadari bahwa karya seni ini merupakan sebuah kerja tim, mulai dari lighting man, sound man, figuran, asisten sutradara, penjaga karcis, proyeksionis sampai…. pengantar rol film. Dan tidak seperti Joni, Joko berhasil menepati janjinya untuk menjadi sutradara. Let’s celebrate!

Comments

Keren... neat review and good insight. Tapi harus baca bukunya ya? Bukannya sebuh film itu karya yang "utuh" (hehe, mungkin pertanyaan ini hrs di-forward ke Joko)

I LLooove this movie, 'tough

Gak harus. Tapi untuk orang yang mau tahu lebih banyak tentang film (terutama yang mau ngeresensi) bukunya bisa ngasih liat sisi lain dari film tersebut.

whoa.. nice blog, really. And good review on JJ.
Best compliment that I can give to a movie is, when I watch it, I feel entertained. After all, that's what movies are all about (IMO anyway).

I enjoy JJ very much that I can overlooked its flaws.

Btw, that nice post about friends, I'll interested on putting it in my blog.

Cheers.
btw, gw dah lama banget ga ketemu sama lo. Kalau lo ke daerah kuningan lagi, let me know, kali2 aja bisa ketemuan. Gw lagi kerja di daerah situ soalnya ;).

Hai Chafid! Thanks! Gue dah lama nih gak nulis blog :p
Ternyata elo udah balik ke Indonesia ya. OK2 ntar kalo gue ke Kuningan ya. Take care.

Well done, stania :) Love your review.. tambah lagi donk buat film yg laen :p

sayang beratnya sebuah rol ga tergambar disana, jadi lebih kerasa betapa susahnya untuk mentransportasikan film.
dan nicholasnya adalah versi rangga masuk sedang parti time job :P

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .