May 02, 2008

I would blame it on my Javanese trait

To avoid confrontation at all costs.
To react even to disturbing news with a resigned smile and soft words.
Javanese who never give a direct refusal to any request but cluttered in giving and taking hints.

It was my mom who irately lectured me every morning saying that I would never get a job if I study politics in university.
It was my dad who squawked my supervisor, saying that he could pay me better than the company offered me as a news reporter.
I avoided the confrontation. I reacted with a resigned smile and soft words.

It took 12 years for my mom to understand that degree in social science can land me a range of employment offers. It took 5 years for my dad to recognize that journalism can give me more than 3 meals a day.   

Yesterday, a scriptwriter lashed out at me for something she later called as a sum up of misinterpretation and miscommunication. Having my producer stands beside me is enough. “It is rubbish” said he, commenting on the scriptwriter’s e-mail, “I trust you more than her”.

I know it’s going to take some time for her to solve the misunderstanding puzzle and realize that she wouldn't need to be furious if only she had been willing to communicate trustfully and equally.    

I avoided the confrontation. I reacted with resigned smile and soft words. Not only because of my Javanese trait, but also for believing that there are no perpetual enemies.      

                            

May 31, 2007

Ibu dan Jurnal itu

Rumah besar di depan jalan itu sudah lama menyita perhatian. Pertama kali saat remaja, sewaktu ditempati oleh keluarga dengan anak laki-laki lucu; tepat saat hormon saya dan teman-teman sekelas mulai tereksitasi.
Saya meninggalkan Jakarta lebih dari 5 tahun. Tak tahu apa yang terjadi kemudian. Tapi sewaktu saya pulang, saya rasa rumah itu sudah menjadi seperti sekarang –walaupun belum dicet orenj ngejreng ngedombreng.   
Sampai saat penghujung tahun, Lexy mengajak Julz dan saya menghadiri acara di sana. 
Saya pun mulai mengenal Rara yang ramah dan baik hati (ehm); Nina yang cantik yang selalu saya tuduh memiliki nama asli Siti Zubaidah; Kamel yang lucu :D dan Mariana yang cuek.
Jurnal-jurnal itu pun berpindah dari tangan Rara ke saya saat tandangan kesana.

***   

Wajah Ibu berbinar-binar saat dia menyambut saya pulang kantor. Katanya, dia baru saja membaca puisi di satu jurnal dari rumah depan. Saat selesai, kakak perempuan saya bertepuk tangan. Ibu saya tersipu malu.
Saya tertawa.
Wajahnya sama seperti saat dia melihat Sousan dan Cornelia di TV lokal dan berbisik, ‘mereka kan di film itu jadi…,’ …suaranya pelan, seperti takut kalau terdengar orang. Tapi saya menangkap sebuah keriaan, seperti menikmati guilty pleasure, yang dipercayakannya kepada saya.
Ia lalu mengendap-ngendap ke kamar saya sambil membawa jurnal rumah depan.
Raut mukanya sumringah. ‘Kok kamu tahu sih, yang dimauin Mamah?’ kata dia. Walaupun setelah itu dia berpikir keras. Dahinya berkerut. Lalu dari mulutnya, meracau pendapat tentang feminisme dan nasihat untuk tidak salah jalan atau kebablasan.
Ia sepertinya mulai ingat niat awalnya, membaca puisi.
Lalu suara pelan guilty pleasure yang dipercayakannya ke saya pun terdengar,

‘Wanita
Kami bukan lagi
bunga pajangan
yang layu dalam jambangan.
         Cantik dalam menurut
         indah dalam menyerah
         molek tidak menentang
         ke neraka mesti mengikut
         ke sorga hanya menumpang.
              Kami bukan juga
              bunga tercampak
              dalam hidup terinjak-injak.
                      Penjual keringat murah
                      buruh separuh harga
                      tiada perlindungan
                      tiada persamaan
                      sarat dimuati beban
                              Kami telah berseru
                              dari balik dinding pingitan
                              dari dendam pemaduan
                              dari perdagangan di lorong malam
                              dari kesumat kawin paksaan:
                              “Kami manusia” ‘

Sepertinya, saya sudah mengkader Ibu saya…

April 19, 2007

Bisa ngomong sampe bego

“Eh, gue mau nelpon ke Indonesia nih. Ntar sebelum balik, gue mau ngisi pulsa cingular dulu ya”
“Ih disini ada tau prepaid telephone card. Cuma 5 dolar lo udah bisa nyambung ke Indonesia. Lama banget, bisa ngomong sampe bego”
“Oh ya?”
“Iya, kartunya dijual di groceries. Nanti kalo lewat, kita mampir dulu aja”

     Siska, teman saya yang sedang kuliah di San Francisco punPrepaid_phone_card mengajak saya untuk mampir di sebuah grocery store alias toko kelontong  di 24th Street, Mission. Beberapa merk kartu telepon pra-bayar saya coba, dan saya cukup puas dengan kartu telepon Asia Direct seharga 5 USD yang bisa digunakan untuk menelpon ke Indonesia. Kartu ini dapat digunakan selama 333 menit untuk telepon rumah (landline) atau setengahnya untuk telepon seluler.

     Berkomunikasi antar benua di kota besar seperti San Francisco memang tidak sulit. Yang paling mudah tentunya adalah melalui internet, karena tak lama lagi San Francisco berencana untuk menjadi kota nirkabel (wireless city) seperti Seattle. Hal ini memungkinkan warga kotanya untuk mengakses layanan internet secara gratis. Walaupun rencana ini masih dalam tahap realisasi, tapi sudah banyak hotspot yang dapat digunakan di wilayah perumahan dan tempat umum. Tender penyedia jaringan nirkabel San Francisco pada tahun 2006 dimenangkan oleh Google, raksasa internet yang bermarkas di Googleplex, Mountain View (sekitar 90 menit naik kereta dari pusat kota San Francisco) bersama dengan Earthlink. Hal ini tentu tidak lepas dari kemauan politik pemerintah kota untuk memberikan akses internet yang terjangkau bagi warganya. Seperti yang ditulis The Register, Walikota San Francisco, Gavin Newsom menuturkan Wi-Fi sebagai ‘a basic human right’ - sort of like gay marriage, but for nerds.

     Di Indonesia, ada Indonesian Wi-Fi Consortium yang bertujuan untuk mendorong perkembangan dan pemanfaatan teknologi Internet nirkabel. Salah satu upaya yang dilakukan konsorsium ini adalah membangun dan mempromosikan jaringan nirkabel publik di Indonesia.

     Tapi, tentunya, kemudahan akses internet ini tidak datang begitu saja. Pajak yang harus ditanggung oleh warga kota tentu saja tinggi. Homelessman_sf_1Saat ini saja San Francisco tercatat sebagai salah satu kota termahal di Amerika Serikat. Internet boom di Silicon Valley awal tahun 2000an membuat harga tanah dan biaya hidup di San Francisco Bay Area meningkat. Hal ini menggandakan jumlah tunawisma di San Francisco.

     Penyediaan layanan nirkabel yang dapat diakses gratis oleh publik pastinya juga menimbulkan keberatan dari perusahaan penyedia jasa internet lain. Kalau di Indonesia, provider seperti CBN, radnet atau Telkom mungkin akan keberatan dengan usulan untuk membuat Jakarta sebagai kota nirkabel. Yang pasti, saat ini saya bisa leluasa menghubungi Indonesia melalui e-mail, YM, skype dan ngomong sampai bego :D   

March 24, 2007

Hey…

My blog is featured on Maverick’s blog this week.
Thank you, I appreciate that (although… ugh.. yang tahu tampang cowok gue jadi tambah banyak doong… :p).
However since it was mentioned there, I want to note that I’m no longer working for 68H (ah yes, perhaps the link titled “Kerjaan” still contains Asia Calling’s url).
I’m now a full time student at American Studies, Universitas Indonesia and starting next month, I will conduct my research in Berkeley about radio in US.
Anyhow, I’m still 68H’s crew by heart :D From all of the companies I have worked for, 68H was the place where I had great opportunity to learn and grow. If Citra was granted study scholarship by foreign govt, I might say that 68H is the main sponsor of my further study (not directly though, but from the salary I obtained).
I’m still listening to Radio Utan Kayu (68H’s Jakarta station); not necessarily to make me informed, but mostly to hear my friends voices in it :D

Stanias_on_mavericks_2

Friday, March 23, 2007
Click Of The Week: Stania's Blog: This is not my life story

We're already know that radio journalism is quite differ from print media journalism. That's including the person behind it. But when it comes to blogging, it's hard to differentiate between those two.
Take a look for this
blog for an instance. In a glance, maybe you would think that she is a journalist for print media, by the way she writes. But actually, she's a radio journalist for Kantor Berita Radio 68-H. I would say that her writings or posting are somewhat intellectual yet playful. She can really underline or stressed out her point of view yet expressed carefully and successfully ; that it doesn't sound offending. Stania seems to always want to make sure whoever gets to read her blog can easily grasp the real message she wants to deliver. Something that all print media journalist are trying to do everyday, aren't they?
As she describe on her blog's title, the blog is not about her life story; it's HER story. So mainly, her posting are based on what she experiences, feels and sees which she turns into stories. Errrr maybe Stania itself can explain it more clearly...
Her writings are very expressive that even halfway reading her postings, we can tell how she is not afraid to speak her mind. That's part of the reason why we chose her blog to be the click of the week for this week. An addition to that, this is the first radio journalist's blog selected by Maverick.
Why don't you take look at her posting:
Tentang Remeh Temeh dan Omong Kosong and tell us what you think?
Congratulation Stania!